Blitar - Musim kemarau yang sudah berbulan-bulan terjadi di Kabupaten Blitar, membuat petani cabai rawit di Dusun Kedungjati, Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, terkena dampaknya.
Kondisi itu menyebabkan banyak cabai yang rontok dan kempis. Seperti dialami Sukanianto, salah seorang petani yang merasakan penurunan panen yang sangat signifikan, bila dibandingkan dengan tahun lalu di bulan yang sama.
Para petani telah berusaha menyiasati sulitnya air dengan cara menggunakan pupuk kandang, serta menggunakan pupuk organik daun dan buah, dengan cara disemprot ke tanaman. Hasilnya bagus, namun tidak terlalu maksimal jika tidak diimbangi dengan asupan air yang cukup.
"Para petani cabai di Desa Rejoso, rata-rata merasakan penurunan hasil panen. Padahal harga cabai sedang tinggi. Jika sebelumnya pada 2023, dari 1,5 hektar lahan, saya bisa menghasilkan kurang lebih 1,5 ton cabai, namun sekarang untuk mendapatkan 1 ton saja sulit," ucap Sukanianto.
Lebih lanjut, pria yang sudah 24 tahun menggeluti dunia pertanian cabai tersebut menjelaskan, faktor kemarau berkepanjangan yang menyebabkan pasokan air menurun.
Mengingat tanaman cabai rawit tidak tahan dengan musim kemarau, terkecuali tersedia air untuk melakukan penyiraman agar kebutuhan airnya terpenuhi.
Namun apalah daya, dia dan petani lain di daerahnya hanya memiliki modal tenaga saja, sedangkan sumber air juga semakin menipis karena faktor kemarau dan juga kurangnya modal untuk membuat sumur bor.
Untuk itu, para petani berharap kepada pemerintah daerah, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, agar dapat membantu membuatkan satu sumur bor untuk satu kelompok tani dengan tujuan untuk pengairan lahan, agar hasil panen cabai rawit menjadi maksimal.
“Mengingat di daerah Rejoso, merupakan salah satu penghasil cabai rawit terbaik di Blitar Selatan," pungkasnya. (apr/iyo/ynu)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila