BLITAR - Niat mencari rumput, remaja 16 tahun berinisial APP, warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, harus pulang tanpa nyawa.
APP tenggelam usai nekat menyeberangi muara sungai Pantai Jebring di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Sabtu (27/7).
Kasi Humas Polres Blitar Iptu Heri Irianto mengatakan, awalnya korban bersama temannya pergi untuk mencari rumput di sekitar muara Pantai Jebring.
Untuk menuju ladang, keduanya harus menyeberangi sungai. Rekan APP yang bisa berenang mengambil perahu rakit untuk digunakan menyeberang.
“Teman korban mengambil rakit untuk menyeberangi sungai, tapi korban tidak sabar dan nekat berenang sendiri. Padahal korban kurang mahir untuk berenang, dan tenggelam saat sampai di tengah sungai," kata Heri, Minggu (28/7/2024)
Dia melanjutkan, kenekatan korban itu justru berujung maut. Remaja 16 tahun tersebut ditemukan meninggal dunia usai tenggelam selama 3 jam. Karena arus sungai yang cukup deras, APP ditemukan sekitar 150 meter dari lokasi kejadian.
Heri mengungkapkan bahwa keduanya biasa menyeberang menggunakan rakit untuk menuju ladang. Karena itu, teman korban berinisiatif untuk mengambil rakit.
Pihaknya juga tidak mengetahui alasan yang memantik korban tidak sabar dan mencoba menyeberangi muara sungai itu dengan cara berenang.
"Korban ini sudah berenang hampir tengah muara, namun justru tenggelam. Melihat itu, rekannya berusaha menolong, tapi tidak bisa. Temannya langsung meminta bantuan kepada kakek korban," ungkapnya.
Mengetahui hal itu, sang kakek langsung melaporkan peristiwa tersebut ke perangkat desa dan pos keamanan laut terpadu (kamladu) untuk meminta bantuan. Akhirnya, korban dapat ditemukan oleh nelayan dengan cara menyelam ke sungai sekitar pukul 16.30 WIB.
Heri menambahakan, saat ditemukan, kondisi korban setengah telanjang memakai celana pendek hitam.
Sempat diperiksa dan dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis. Jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan dan dimakamkan.
"Ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia. Pihak keluarga juga tidak berkenan dilakukan otopsi dan menganggap peristiwa ini sebagai musibah," pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila