BLITAR - Kurun waktu sebulan terakhir, banyak hewan ternak khususnya ruminansia yang terkena penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF).
Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari ada puluhan ternak yang mengalami gejala demam selama tiga hari.
“Selama Juli lalu itu ada sekitar 25 hingga 30 ekor sapi. Bahkan sempat ada informasi yang menyerang kerbau juga. Ini tadi ada penambahan satu ekor sapi (3/8) yang terjangkit demam tiga hari,” ujar dokter hewan yang membuka praktik di Kecamatan Talun, Riris Dian We Wahyu.
Dari pantauannya, sakit yang dialami hewan herbivora ini disebabkan oleh infeksi rhabdovirus yang masuk ke dalam tubuh ternak melalui serangga lain atau biasa disebut vector (pembawa penyakit), seperti nyamuk dan lalat.
Biasanya pertumbuhan serangga ini sering kali saat musim hujan. Namun karena cuaca yang tidak menentu, diduga menjadi penyebab utama penyebaran penyakit pada hewan ini.
Alasannya, cuaca seperti ini menjadi ladang perpindahan vector dari satu tempat ke tempat lainya.
“Sebenarnya yang paling sering itu saat musim penghujan. Namun karena ada badai La Nina ini, membuat sebagian hewan imunitas tubuhnya turun.
Makanya di Juli lalu cukup banyak hewan yang terjangkit. Ditambah lagi cuaca yang dingin. Ini menyebabkan hewan rawan terserang penyakit,” jelasnya.
Risis mengaku cukup sering menemukan adanya peningkatan produksi lendir pada saluran pernafasan. Ini yang mengindikasihan hewan ternak terkena flu.
“Kalau ngomongin penyakit ini memang selalu ada sepanjang tahun. Soalnya iklim di Indonesia ini tropis, sehingga mendukung siklus hidup hewan pembawa penyakit. Namun jumlah hewan yang sakit itu tidak tentu, tergantung imunitas hewan ternak dan kebersihan lingkungan,” ungkapnya.
Walaupun begitu, terang dia, penyakit ini memiliki tanda-tanda yang bisa dilihat. Seperti demam mendadak dengan suhu tubuh lebih dari 40 derajat Celsius.
Selain itu, ada juga tanda berupa penurunan nafsu makan, nafas cepat , produksi lendir hidung meningkat, lemah, saluran cerna berjalan lamban, nyeri dan kaku pada sendi kaki, dan telinga dingin atau panas.
“Namun jangan khwatir, untuk penyakit ini risiko kematiannya rendah. Tetapi akan mengkhwatirkan jika terjadi kembung. Soalnya ini bisa menyebabkan kematian. Makanya perlu segera ada penanganan,” ujarnya.
Untuk meminimalisir penyebaran vector penyebab sakit. Pemilik ternak bisa melakukan berbagai upaya, seperti menjaga kebersihan kandang dan lingkungan.
Selain itu hewan ternak juga harus rutin diberikan suplementasi, mineral, vitamin dan obat cacing agar daya tahan semakin kuat. (mg2/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila