BLITAR - Dimsum hidangan porsi kecil khas Tionghoa kini sedang menjadi favorit berbagai kalangan di Indonesia.
Selain mudah ditemukan di berbagai kedai maupun kafe dan resto, kini dimsum hadir di Blitar dengan inovasi dan tampilan yang menggugah selera.
DISAJIKAN dengan saus mentai gurih yang terbuat dari mayones keju dan bahan-bahan lain, menjadi perpaduan lezat yang bisa dinikmati di waktu senggang dan santai.
Riza Nensy, seorang mahasiswi studi magister biologi salah satu kampus di Malang asal Kanigoro, kreatif memperkenalkan dimsum mentai untuk masyarakat Blitar Raya.
Dimsum Mentai ini hadir dengan harga terjangkau, segera menarik perhatian para pemburu kuliner.
Seperti Riza, menjualnya dengan harga yang bisa dibeli Rp 2 ribu per picis dan satu porsi Rp 10 ribu dengan isian lima picis.
Menurut Riza, ide untuk menciptakan dimsum mentai muncul karena dia sendiri menyukai dimsum dengan saus gurih ini.
Namun karena masih jarang menemukan dengan harga yang terjangkau di Blitar. Akhirnya dia mencoba membuat sendiri.
“Kebetulan saat di Malang memang suka dimsum mentai, namun di Blitar sendiri masih jarang yang jual. Kadang ada, itupun dengan harga yang kurang terjangkau jika dibandingkan dengan kualitas,” ujarnya.
Ciri khas dimsum biasa dikenal dengan bahan utama udang, namun Riza mengungkapkan, jika produksi dimsum yang dibuatnya berbahan utama ayam. Mengingat teman dan keluarga dekatnya ada yang alergi udang.
“Pakai ayam untuk bahan utamanya, lalu dicampur dengan bumbu bumbu lain tanpa campuran udang, soalnya orang-orang terdekatku ada yang alergi. Jadi memilih menggunakan ayam,” terangnya.
Riza mengaku, membuat dimsum per picis secara handmade tidak begitu menemukan kesulitan.
Meskipun kadang sesekali membuka pre order (PO), bisa membuat hingga 20 porsi atau 100 picis dimsum.
“iya semunya dilakukan handmade dalam skala produksi kecil, kesulitannya dalam perbuatan tidak ada, mungkin ada di harga bahan baku seperti ayam yang naik turun,” ujarnya. (han/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila