BLITAR - Sebagian lahan pertanian di Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok, terserang hama burung dan tikus.
Akibatnya beberapa petani terpaksa membabat habis lahan dan dijual seadanya karena gagal penen merajalelanya hewan tersebut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Hikma Wahyudi mengungkapkan, kejadian itu ada sangkut pautnya dengan musim kemarau. Serangan hama juga terjadi di musim kemarau tahun lalu.
“Saat kemarau harus waspada lahan kekurangan air, jadi perlu persiapan. Selain itu secara keilmuan, setiap tahun di musim kemarau pasti selalu ada hama-hama mengganggu. Sedangkan di musim penghujan biasanya ada jamur,” terang pria berkacamata itu.
Untuk mengatasi hawa menyerang lahan pertanian warga ini, Hikma menyarankan untuk penanaman serentak di musim tanam berikutnya.
Dengan cara ini lahan yang diserang hama bisa diatasi secara bersama dan serentak sehingga hama tidak akan kembali lagi.
“Kalau enggak gitu, burung atau tikus ini akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang dekat. Itu enggak akan menyelesaiakan masalah,” tandasnya.
Tidak hanya itu, dia juga mengimbau agar jalan-jalan setapak yang ada di pinggiran lahan tidak ditanaman tumbuhan rimbun seperti rumput gajah. Dari pantauannya, tumbuhan itu menjadi sarang atau lubang tempat tikus sembunyi.
“Memelihara dan membuatkan rumah burung hantu di lokasi persawahan juga bisa menjadi solusi. Soalnya burung ini menjadi predator puncak pengganti ular sawah. Jika tidak ada predator, hama ini akan terus berkembang biak,” jelasnya.
Untuk saat ini, Hikma meyakini setiap kecamatan di kabupaten ini pasti ada rumah burung hantu. Namun, sejauh yang diketahui jumlahnya belum bisa menaungi luas lahan yang dikelola petani atau bisa dibilang jumlahnya masih sedikit.
Ada beberapa lokasi menjadi pantauan DKPP karena sering terserang hama. Yakni Selopuro, Sutojayan, Nglegok, Srengat, Gandusari, dan Wonodadi.
Untuk mengatasi ini berharap tim yang ada segera melaporkan kejadian di lapangan. Dengan begitu bisa merespons lebih cepat dan memberikan solusi agar petani tidak gagal panen. (mg2/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila