BLITAR - Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, pengajuan pembuatan paspor didominasi pekerja migran Indonesia (PMI) dan calon jemaah umrah.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non-TPI Blitar Arief Yudhistira mengungkapkan, selama kurun waktu Januari hingga Juli ini Imigrasi sudah mengantongi Rp 8 miliar (M) dari pemohon pengurusan paspor.
Jumlah tersebut lebih banyak dari target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sudah ditentukan, yakni sebesar Rp 7,1 M.
“Itu menandakan bahwa target dibebankan pemerintah ke kita sudah terpenuhi. Sudah melampaui target dan naik sekitar 120 persen,” terangnya saat ditemui di wisata Kampung Coklat, Sabtu (3/8/2024).
Dari jumlah tersebut pengurusan paling sering dilakukan warga Tulungagung dan Blitar ialah pembuatan paspor umrah, kunjungan ke luar negeri, paspor PMI. Sedangkan terbanyak pembuatan paspor PMI dan umrah.
Walaupun animo warga tahun ini tinggi, Imigrasi Blitar masih menghadapi permasalahan klasik dalam administrasi.
Termasuk masih ada warga belum mengerti tahapan layanan dan berkas dibutuhkan dalam pengurusan keimigrasian.
“Minimal data diri di KTP, KK, akta lahir dan surat nikah harus sama semuanya. Sehingga nama, tanggal lahir, tahun lahir tidak perlu penyesuaian lagi. Jika ada perbedaan ejaan satu huruf sudah bermasalah dan di sistem kami dianggap orang berbeda. Maka perlu pembenahan dulu sebelum mengajukan ke kami,” ungkapnya.
Untuk mengatasi itu, berbagai upaya sudah dilakukan. Termasuk membuka layanan sementara di Kampung Coklat, program desa binaan dilakukan di Tulungagung, karena di sana pusat projek PMI nomor 3 nasional.
Nantinya program ini akan diterapkan di Blitar Raya. Sedangkan di Blitar ada kegiatan rutin sudah dilakukan yakni Imigrasi Masuk Desa.
“Kami juga melakukan layanan pembuatan paspor keimigrasian di Kampung Coklat. Itu merupakan bentuk upaya kami mendekatkan diri kepada warga sekaligus merubah suasana. Dengan begitu warga yang mengajukan bisa sekalian berlibur,” ujarnya.
Di kesempatan tersebut, Imigrasi telah mempersiapkan sekitar 50 kuota pembuatan paspor. Saat dicek pada siang hari, semua kuota sudah terisi penuh.
Tidak tanggung-tanggung antusian warga cukup tinggi hingga ada warga Tulungagung menyempatkan hadir untuk memperpanjang paspor.
“Itu bentuk sosialisasi kami agar warga tidak lagi khawatir dengan anggapan bahwa pembuatan paspor ini susah dan ribet. Dengan cara ini kita sekalian memberitahu tahapan dalam pembuatan paspor yang baik sekaligus benar,” terangnya. (mg2/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila