Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tekan Kasus PMK-LSD di Blitar Raya, FKH UNAIR Gelar Seminar hingga Vaksinasi Hewan Peternak

M. Subchan Abdullah • Selasa, 6 Agustus 2024 | 15:00 WIB
ANTISIPASI: Kelompok Pengmas Mandiri FKH UNAIR bersama perwakilan dari dinas peternakan kota dan Kabupaten Blitar di sela-sela vaksinasi hewan ternak warga, Minggu (4/8/
ANTISIPASI: Kelompok Pengmas Mandiri FKH UNAIR bersama perwakilan dari dinas peternakan kota dan Kabupaten Blitar di sela-sela vaksinasi hewan ternak warga, Minggu (4/8/

BLITAR - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi perhatian serius seluruh pemerintah daerah (pemda). Termasuk pemda di wilayah Blitar raya.

Dua penyakit tersebut diketahui masuk ke Indonesia hampir secara bersamaan pada 2022. Hingga kini belum dapat diberantas termasuk di Blitar raya.

Data dari ISIKHNAS per 3 Agustus 2024 menunjukkan kasus PMK masih ditemukan di 10 provinsi dengan jumlah hewan terinfeksi 6.874 ekor, sedangkan LSD mencapai 8 provinsi dengan jumlah kasus 4.018 ekor.

Sementara di Kabupaten Blitar dilaporkan kembali marak kasus PMK pada Januari – April 2024. Kemudian kasus di Kota Blitar pada Mei tidak ditemukan kasus. LSD juga masih ditemukan pada April 2024 di Kabupaten Blitar dan pada Juni 2024 di Kota Blitar.

Menyikapi hal tersebut Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Mandiri pada 3-4 Agustus 2024. Pengmas dilaksanakan oleh empat orang dosen (Prof. Dr. Jola Rahmahani, drh., M.Kes., Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si., Prof. Dr. Erma Safitri, drh., M.Si dan Dr. Kadek Rachmawati, drh., M.Kes) serta empat orang mahasiswa S2 FKH UNAIR (Drh. Supriyadi, Gabriel Sampe Pasang, SKH, Pitaloka Kurniasari, SKH, dan Dyah Irfani, SKH).

Menurut Ketua pengmas, Prof Jola Rahmahani, kegiatan sharing keilmuan dilaksanakan dalam bentuk Seminar & Ngobrol Bareng pada 3 Agustus 2024 pukul 18.00 – 22.00 WIB dengan menghadirkan dua narasumber.

"Tema yang diangkat adalah Penanganan Kasus PMK & LSD di Wilayah Kerja PDHI Jatim 8 Blitar pada ternak ruminansia," terangnya, Senin (5/8/2024).

Acara Seminar diadakan di Rumah Makan Bu Mamik dan dihadiri sekitar 100 dokter hewan dan paramedis. Hadir pula pada acara tersebut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Eko Susant, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Blitar Drh Dewi Masitoh, Ketua PDHI Jatim 8 Drh. Leo Sudilaksono dan Ketua Paravetindo Dayat.

Prof. Suwarno selaku narasumber mengatakan, penanganan kasus PMK atau LSD harus ditangani secara tuntas dengan melakukan vaksinasi secara massif.

Fokus penanganan secara virologik adalah dengan melihat karakter virus PMK atau LSD yang dapat ditangani dengan mencegah penyakit melalui vaksinasi dan melakukan biosekuriti yang ketat menggunakan disinfektan yang dapat merusak struktur virus.

Suwarno melanjutkan, penanganan terhadap hewan yang terinfeksi secara dini perlu mendapatkan pengobatan simptomatik (berdasarkan gejala klinis) dan suportif (penunjang) dengan pemberian vitamin dan mineral.

"Pengobatan ini sangat membantu di dalam memulihkan tenaga dan menjaga sistem imun hewan agar tetap kuat," jelasnya.

Di lain pihak, Prof. Erma Safitri (guru besar bidang reproduksi), narasumber kedua memberikan advis terkait penanganan kasus reproduksi pada ternak. Pasca kasus PMK atau LSD banyak sapi betina yang mengalami gangguan reproduksi dengan adanya abortus, kegagalan birahi dan kawin berulang.

Kondisi ini tentunya merugikan peternak karena harapan induk sapi beranak setahun sekali menjadi tidak berhasil.

"Pemberian gizi pakan yang lengkap dan terapi hormonal akan dapat mengembalikan fungsi alat reproduksi sapi, sehingga diharapkan induk sapi menjadi normal kembali dan dapat menghasilkan anak sesuai harapan," terangnya.

Tanggal 4 Agustus dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke lokasi peternakan kambing domba Cipto Mulyo Farm di Desa Sanandayu dan peternakan sapi perah milik Perkebunan Gambar Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Blitar. Kegiatan ini difokuskan pada pemeriksaan reproduksi pasca wabah PMK dan LSD.

Pemeriksaan kebuntingan pada domba dilakukan dengan menggunakan alat USG. Tampak beberapa ekor domba positif, baik permeriksaan, baik secara fisik maupun USG.

Sementara itu pada pemeriksaan sapi yang dilakukan secara rektal dan USG, didapatkan beberapa ekor sapi positif bunting dan lainnya menderita gangguan reproduksi, berupa kawin berulang, tidak birahi dan majer (infertile) yang disebabkan oleh adanya hypofungsi ovarium dan CLP (corpus luteum persistent). "Penanganan yang dilakukan untuk kasus tersebut adalah upaya pemberian pakan bergizi dan juga penyuntikan hormon," pungkasnya. (*)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) #Kabupaten Blitar #Lumpy Skin Disease (LSD)