BLITAR - Cuaca panas beberapa pekan terakhir membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar kelabakan.
Pasalnya, kebutuhan air taman kota naik dua kali lipat dari biasanya. Koordinasi dengan warga menjadi alternatif mencegah tanaman mati saat cuaca ekstrem.
Kasi Pertamanan dan RTH DLH Kabupaten Blitar, Chamim mengungkapkan, sepanjang Juli lalu pihaknya harus menyiapkan 5 truk tangki air untuk menyirami tanaman di taman kota. Padahal biasanya hanya butuh 2 atau 3 tangki.
“Mungkin karena cuaca kemarau panasnya masih menyengat. Saya rasa lebih panas tahun ini dari pada tiga tahun lalu, kami memerlukan air lebih banyak untuk penyiraman. Terutama untuk tanaman pot di taman. Jika teledor 4 sampai 5 hari tumbuhan sudah layu,” terangnya.
Pemberian air banyak merupakan upaya meminimalkan tanaman mati akibat kurang air. Sebab, beberapa tanaman dan pepohonan nyaris mati tahun lalu lantaran kurang air.
Dia menjelaskan, ada berapa titik taman kota menjadi tanggungan DLH. Yakni di Taman Wlingi, Taman Kanigoro dan Taman Garum. Selain itu, ada beberapa pohon baru yang ditanam DLH dan butuh perawatan.
“Sebenarnya ada pohon baru ditanam tahun ini, terletak di tepi jalan Gandusari. Karena kami sering menanam di awal musim hujan, jadi saat kemarau sudah muncul akar tumbuhan yang kuat dan mampu menyerap air sendiri,” ujarnya.
Dia mengaku, sudah berkoordinasi dengan warga sekitar. Warga sepakat ikut merawat tanaman tersebut karena penting sebagai penyuplai oksigen.
“DLH tidak mampu sendiri. Maka perlu koordinasi dengan pihak sekitar, termasuk masyarakat,” pungkasnya. (mg2/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila