BLITAR - Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini terhadap kanker serviks kurang. Terbukti sebulan hanya 10 orang mengikuti screening Infeksi Visual Asetat (IVA). Padahal pemeriksaan dini bisa mengurangi risiko kanker serviks yang parah.
Subko Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Blitar, Hyndra Satria mengatakan, minimnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri terhadap kanker serviks.
Kaum hawa Bumi Penataran merasa takut dan malu memeriksakan tersebut. Pasien yang sadar memeriksakan diri penyakit kelamin itu jumlahnya 2 persen dari masyarakat Kabupaten Blitar.
“Padahal puskesmas sudah banyak mencari sasaran screening dari kader posyandu dan sebagian dari masyarakat. Selain itu, pemeriksaan itu tidak dipungut biaya,” ujar Hyndra yang ditemui di kantonya, senin (12/8/2024).
Dia melanjutkan, jika masyarakat banyak melakukan screening dini terhadap kanker serviks, maka perawatannya lebih cepat tertangani dan tidak sampai memasuki kategori stadium atau parah.
Jika kanker serviks yang diidap memasuk stadium lanjut akan susah ditangani.Kini semua puskesmas dapat melakukan pemeriksaan IVA bagi semua perempuan di Kabupaten Blitar.
Setiap puskesmas telah membuka jadwal pemeriksaan seminggu 2 hingga 3 kali khusus untuk IVA. Itu untuk membantu pencegahan kanker serviks sejak dini.
“Infeksi Visual Asetat (IVA) merupakan metode deteksi dini untuk perempuan, bahwa yang bersangkutan ada sel kanker atau tidak. Itu deteksi dini paling gampang dan sederhana yang dapat dilakukan,” ungkapnya.
Metodenya menggunakan asam asetat atau cuka yang diteteskan pada bibir rahim. Rasanya tidak sakit, dan proses pemeriksa IVA ini tidak butuh waktu lama.
Setelah itu terlihat adanya erosi, atau sesuatu yang ada di bibir rahim yang menunjukan gejala. Sehingga dapat diketahui kondisi kanker serviks pasien.
Usai mengetahui hasil pengecekan pada IVA, dokter dapat mengarahkan pemeriksaan lebih lanjut. Tentu ada pemeriksaan lanjutan, bila ada erosi biasanya diberi terapi dan obat. Selain itu, pasien harus konsultasi lebih lanjut kepada dokter dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG).
“Kami juga telah menyediakan alat disposible dari plastik sekali pakai. Sebelumnya, alat IVA ini dari logam yang membuat pasien tidak nyaman. Namun ternyata banyak pasien yang masih takut untuk pemerikaan IVA,” pungkasnya. (jar/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila