Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Arema FC Main di Blitar, 50 Persen Sekolah Tetap Luring Meski Lokasi Jauh dari Stadion Soeprijadi

Muhamad Ilham Baha’udin • Selasa, 13 Agustus 2024 | 21:00 WIB
Santai: Siswa  SD di Kota Blitar pulang sekolah
Santai: Siswa SD di Kota Blitar pulang sekolah

BLITAR - Meskipun Dinas Pendidikan (Dispendik) telah mengeluarkan surat edaran (SE) agar kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan daring. Ternyata, masih ada sekolah di kota yang tetap memilih belajar seperti biasa di sekolah.

Dikeluarkannya SE itu sendiri memang untuk mengantisipasi pergerakan supporter dan kemacetan lalintas saat gelaran BRI Liga 1 antara Arema FC melawan Dewa United di Stadion Soeprijadi, Minggu (12/8/2024).  

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi 1 DPRD Kota Blitar Nuhan Eko Wahyudi mengungkapkan, terkait turunnya SE dari dispendik maupun kemenag justru membuat suasana semakin tegang.

Pasalnya, beberapa narasi menimbulkan salah pemaknaan yang berujung geger di jagad maya.

“Sebenarnya siswa boleh belajar secara daring, tapi adanya SE itu para orang tua menganggap hanya karena pertandingan sepak bola mengalahkan kepentingan pendidikan,” ungkapnya Minggu (12/8/2024).

Menurut dia, hal tersebut perlu diluruskan oleh Dispendik dengan memberikan opsi daring atau luring kepada sekolah. Sebab, narasi SE yang pertama seolah-olah mewajibkan siswa belajar secara daring.

“Iya, meski begitu, walaupun sistem pendidikan di Indonesia telah cukup mumpuni untuk memberikan pelajaran secara daring, akan lebih baik jika diberikan opsi atau terbatas pada sekolah yang terdekat dari lokasi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dispendik Dindin Alinurdin mengatakan, turunnya SE tersebut merupakan upaya mendukung Laga Liga 1 dengan mengurangi mobilitas kepadatan jalan oleh siswa.

Selain itu, hal ini juga merupakan evaluasi program lama pemerintah yakni pembelajaran berbasis teknologi informasi (IT).

“Iya, kemarin dari Pemprov disentil karena Kota Blitar ini masih minim yang menggunakan akun belajar IT. Dari sekitar 1.300 guru masih 200-an yang menerapkan, tentu pembelajaran di beberapa sekolah ini diharapkan bisa menggetolkan program pemerintah,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan lapangan, jelas dia, persentase siswa dengan pembelajaran luring dan daring hari ini imbang 50:50 persen. Upaya pemasifan penggunaan akun belajar berbasis IT ini telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu.

“Jadi saya kira pas ya, dengan meningkatkan pembelajaran IT dan mendukung Liga 1. Jadi bukan karena meragukan keamanan dari pelaksana,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Sekolah SDN 2 Ngadirejo Endar Wigati mengaku, kebijakan sekolah untuk tetap menggelar KBM secara tatap muka ini setelah mempertimbangkan lokasi sekolah yang cukup jauh dari pusat kegiatan.

Selain itu, belum tentu seluruh siswa memiliki perangkat yang mendukung dalam kegiatan KBM secara daring ini.

“Karena SE tersebut bersifat imbauan, tentu semua kembali pada kebijakan sekolah ya. Kebetulan sekolah kami berlokasi di ujung utara, jauh dari stadion serta siswa kami kebanyakan dekat sekolah,” terangnya.

Selain faktor jarak, pihaknya turut mempertimbangkan tidak seluruh siswa ataupun wali murid memiliki ponsel lebih dari satu. Selain itu, akses internet yang digunakan oleh siswa turut menjadi pertimbangan.

“Kalau misal anaknya dua dan daring semua kan kasihan. Nah, untuk itu kami sepakat mengadakan pembelajaran secara luring untuk mengantisipasi ada anak dalam satu keluarga hanya memiliki satu ponsel,” pungkasnya. (ham/ady)   

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Stadion Soeprijadi #sekolah luring #Dispendik #Arema FC #Kota Blitar #KBM