Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ratusan Balita di Kota Blitar Terindikasi Obesitas Gegara Minum Sufor Tinggi Gula, Dinkes Berikan Imbauan Ini

Muhamad Ilham Baha’udin • Kamis, 15 Agustus 2024 | 21:00 WIB
CEGAH OBESITAS: Nisa Nur menyuapi bayinya, Abimana, dengan makanan pendamping ASI. Sejak lahir, Nisa berupaya memberikan ASI eksklusif.
CEGAH OBESITAS: Nisa Nur menyuapi bayinya, Abimana, dengan makanan pendamping ASI. Sejak lahir, Nisa berupaya memberikan ASI eksklusif.

BLITAR – Ratusan anak bawah lima tahun (balita) di Bumi Bung Karno terindikasi obesitas. Penyebabnya, pemilihan susu formula (sufor) yang memiliki kandungan gula tinggi atau melebihi standar yang ditentukan.

Temuan kasus tersebut dibenarkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Endang Purwono. Faktor pemicu obesitas paling banyak adalah konsumsi sufor yang mengandung gula berlebih.

Akibatnya, balita lebih banyak mengonsumsi susu ketimbang makanan. “Kalau tidak pandai memilih sufor dengan kandungan gula yang rendah bisa menjadikan obesitas,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (14/8/2024).

Data yang dihimpun oleh Dinkes Kota Blitar hingga Juni 2024, tercatat ada 201 balita yang terindikasi obesitas.

Berdasarkan acuan standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bayi dikatakan obesitas saat berat badannya lebih dari 3 kilogram dari batas atas yang disarankan. Atau, berdasarkan tinggi dan berat badan tiga kali lebih besar dari standar.

Selain penggunaan sufor, obesitas pada balita ini disebabkan oleh konsumsi berlebihan pada makanan instan dan makanan yang mengandung pengawet.

Untuk mengantisipasi hal itu, para orang tua perlu mencermati asupan nilai gizi yang diberikan pada balita.

”Meski anak terlihat menggemaskan, itu perlu diwaspadai karena ini bisa mengganggu metabolisme. Kalau bisa, anak diberikan ASI secara optimal,” terangnya.

Dia melanjutkan, pemberian sufor sebenarnya sah-sah saja. Asal, sufor tersebut memiliki kandungan gula atau sukrosa maksimum 25 persen dari total karbohidrat.

Selain itu, berbagai tempat umum telah memberikan fasilitas pojok ASI untuk menyusui ataupun melakukan pumping ASI yang akan diberikan pada anak. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menurunkan tingkat obesitas pada balita. 

Menurut dia, obesitas ini tak hanya berisiko pada balita. Bahkan untuk remaja dan orang dewasa lebih sulit dikendalikan karena menerapkan pola hidup sehat juga bukan perkara mudah. Penyebab obesitas pada remaja dan dewasa lantaran pola makan yang kurang tepat atau tidak seimbang antara input dan output.

”Jadi kalau kalori yang masuk berlebihan, nanti oleh tubuh disimpan menjadi lemak yang lama-kelamaan menumpuk. Nah, lemak ini hanya bisa dibakar lewat olahraga dan defisit kalori melalui program diet,” bebernya.

Lemak, jelas dia, bisa menyelimuti jantung sehingga beban memompa darah semakin berat. Apalagi, jantung sebagai sumber utama kehidupan.

Selama ini, berbagai fasilitas kesehatan (faskes) termasuk puskesmas telah memberikan pelayanan maksimal. Baik dari poli gizi yang bisa melakukan konsultasi secara gratis.

”Tentu masyarakat perlu menerapkan pola hidup sehat dan memanfaatkan berbagai layanan kesehatan ini untuk berkonsultasi,” pungkasnya. (ham/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#balita #susu formula #obesitas #Kota Blitar