BLITAR - Sebentar lagi kita menyambut hari kemerdekaan negara kita Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Pada tahun 2024 ini kita merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) yang ke 79. Peringatan HUT RI ke 79 ini memiliki tema 'Nusantara Baru Indonesia Maju'.
Kemerdekaan Indonesia ini tak luput dari perjuangan panjang para pahlawan melawan penjajahan Belanda selama lebih dari tiga abad dan pendudukan Jepang selama 3,5 tahun atau tepatnya 3 tahun 8 bulan.
Dalam masa penjajahan Belanda, para pahlawan membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Pada masa penjajahan Jepang, semangat kemerdekaan semakin menguat sebab kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II menjadi kesempatan Indonesia untuk merdeka.
Pada 16 Agustus 1945, golongan muda menculik Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno, Mohammad Hatta bersama tokoh nasional lainnya menyusun teks proklamasi kemerdekaan.
Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Proklamasi kemerdekaan tersebut menandai lahirnya Republik Indonesia.
Meski kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, perjuangan masih terus berlanjut karena Belanda berambisi menguasai Indonesia kembali. Berbagai pertempuran melawan tentara Belanda banyak dilalui untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Di balik hari kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap tahun ini, terdapat banyak pahlawan-pahlawan yang telah gugur demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah kala itu.
Membahas tentang pahlawan, ada beberapa pahlawan nasional yang berasal dari Blitar. Siapa saja mereka? Simak selengkapnya berikut ini.
Soeprijadi
Fransiskus Xaverius Soeprijadi atau yang dikenal dengan Shodanco Soeprijadi merupakan pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap Jepang di Blitar pada 14 Februari 1945. Soeprijadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur.
Soeprijadi merupakan putra Raden Darmadi, bupati Blitar di era kemerdekaan. Perjuangan Soeprijadi dan pasukan PETA Blitar melawan penjajah Jepang ini sangat dikenal masyarakat dan dikenang hingga saat ini.
Meski gagal, namun perjuangan pasukan PETA ini membangkitkan jiwa nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan di berbagai wilayah yang kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pasca pemberontakan PETA, Soeprijadi menghilang dan menjadi misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini. Tidak ada yang tahu bagaimana dan dimana Soeprijadi wafat.
Soekarni
Soekarni Kartodiwirjo atau dikenal dengan Soekarni, lahir pada 14 Juli 1916 di Blitar, Jawa Timur. Soekarni termasuk golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pasca mendengar kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Karena tidak ingin berpikir terlalu lama menyatakan kemerdekaan, golongan muda memutuskan untuk menculik Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Sejak kecil, Soekarni digambarkan sebagai orang yang membenci Belanda dimana beliau gemar berkelahi dengan anak-anak Belanda hampir setiap hari. Pola pikirnya ini tertanam dari gurunya, Mohammad Anwar yang juga tokoh pergerakan Indonesia.
Pada usia 14 tahun, Soekarni bergabung dengan organisasi perhimpunan Indonesia Muda. Kemudian beliau didaulat menjadi ketua Pengurus Besar Indonesia Muda pada usia 20 tahun. Soekarni pernah ditunjuk sebagai duta besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok pada 1961 dan ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1967. Soekarni wafat pada 7 Mei 1971. (anindya)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila