Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Chudanco dr Soetjipto, Dokter Blitar yang Kawal Bung Karno Bacakan Proklamasi

Mohammad Syafi'uddin • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 21:52 WIB
Presiden pertama RI, Ir Soekarno membacakan teks proklamasi
Presiden pertama RI, Ir Soekarno membacakan teks proklamasi

BLITAR - DALAM proses memerdekakan Indonesia, segala upaya sudah dilakukan oleh berbagai kalangan. Salah satunya adalah tokoh PETA bernama Chudanco dr Soetjipto yang memiliki nama panjang Soetjipto Gondoamidjojo.

Ia bersama kawannya, Shudanco Singgih, melakukan pengamanan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta ke tepi Sungai Citarum, yaitu di markas tentara Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok.

Guru sejarah MAN Kota Blitar, Ferry Riyandika, membeberkan bahwa Soetjipto awalnya bergabung sebagai Eisei Chudanco (Chudanco bagian kesehatan) di markas Jaga Monyet atau Daidan I Jakarta.

“Ia ini cucu dari Patih Blitar Raden Ngabei Bawadiman Djojodigdo. Ini berdasarkan penelusuran di lapangan dari silsilah yang ada di kediaman Raden Ngabei Bawadiman Djojodigdo, di Jalan Melati, Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.

Patih Blitar ini memiliki istri empat. Salah satu istrinya bernama Mas Adjeng Soekarsih atau Mas Ayu Djojodigdo, sebagai istri keempat, menurunkan R.A Moesiki Gondoamidjojo.

Setelah meninggal, Chudanco Soetjipto dimakamkan di Pesarehan Sumber Bendo,” terang Ferry.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa kiprah Chudanco dr Soetjipto atau biasa dipanggil Dokter Tjipto cukup melegenda. 

Bahkan, Moh. Hatta pernah menyinggung sosok ini dalam sebuah buku karangannya. Dalam karyanya tersebut, dia mengira bahwa asrama PETA Rengasdengklok dikomandani oleh dr Soetjipto.

Kiprah dokter ini cukup tersohor. Bahkan dalam sebuah catatan sahabatnya, Shodanco Oemar Bahsan, yang bertugas di Rengasdengklok, mengungkapkan bahwa dokter asal Blitar ini sangat tidak menyukai Jepang.

Kepiawaiannya adalah sebagai penghubung antara gerakan bawah tanah dari asrama PETA Rengasdengklok “Sapu Mas” dan pemuda-pemuda Jakarta sekitar Januari 1945.

“Menunggunya ketersediaan Jakarta untuk memberontak dari Blitar, bisa jadi melalui tangan Soetjipto–Ismangil yang sama-sama sebagai Eisei Chudanco.

Namun, dengan cepat Jepang mengetahui pergerakan tentara PETA Blitar–Jakarta, akhirnya hubungan mereka segera disabotase.

Inilah mengapa pertemuan rahasia di sebuah warung makan di depan Hotel Centrum, Mataraman, Kota Blitar, dan di Asrama PETA Blitar, untuk menyegerakan dimulainya serangan terhadap Jepang di Blitar,” imbuhnya. 

Setelah kegagalan dari Blitar dengan hukuman di Jakarta, dr Soetjipto melakukan inisiatif mengadakan rapat rahasia untuk menentang Jepang bersama Chudanco Subeno dan Shodanco Oemar Bahsan dari Rengasdengklok, serta Shodanco Singgih di Jakarta, pada 15 Juni 1945.

Dalam catatan Shodanco Oemar Bahsan yang diuraikan Pamoe Rahardjo, setelah selesai bertemu dengan Soekarno-Hatta, Shodanco Oemar- Soekarni-Dokter Soetjipto melakukan pembicaraan enam mata di tempat lain yakni di bekas kediaman sidokan(pelatih Jepang).

Dalam obrolan yang sebentar, Soekarni tidak setuju bila kemerdekaan Indonesia merupakan hadiah dari Jepang, melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI),” lanjutnya.

Setelah kembali ke Jakarta, Bung Karno membacakan teks proklamasi di halaman rumahnya pada 17 Agustus 1945.

Malamnya, dr Soetjipto bertolak balik ke Markas PETA Rengasdengklok dan esoknya ke Asrama PETA Cilamaya. (mg2/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#kemerdekaan #Bung Karno #Chudanco dr Soetjipto #pahlawan #PETA #Soetjipto Gondoamidjojo #Kota Blitar