BLITAR - TIDAK banyak orang mengetahui bahwa Blitar memiliki tokoh yang berjasa di bidang pertanian dan pendidikan.
Dia juga merupakan sosok yang dekat dengan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno.
Yakni, Raden Kartowibowo, sepupu dari Bung Karno. Masyarakat tentu asing dengan sosok Raden Kartowibowo, tapi tidak sengaja sering melewati kediamannya.
Rumah tokoh berjasa ini beralamat di Jalan Kalimantan Nomor 55 Kota Blitar. Halamannya luas dan masih tampak nuansa zaman dulu. Pada bagian depan terdapat tulisan Wisma Kartowibowo.
Dalam wisma itu, ternyata banyak ditemui karya dari Kartowibowo dalam bentuk buku. Beberapa bukunya menceritakan tentang kehidupan, Gunung Kelud, tata cara bertani, serta lain-lain. Selain itu, ada beberapa foto Kartowibowo semasa hidupnya di ruang depan.
Pada Wisma Kartowibowo itu juga ditemui Wisnu Ardiyanto yang merupakan cucu dari Kartowibowo. Dia menceritakan bahwa tidak mengenal langsung sosok kakeknya.
Sebab, dia lahir pada 1972, sedangkan Kartowibowo wafat pada 1948. Meski begitu, dia mempelajari sejarah sang kakek dari arsip dan buku karya Kartowibowo.
“Raden Kartowibowo merupakan salah satu orang pribumi yang menduduki jabatan profesional di lingkungan pemerintah Hindia Belanda. Bahkan pernah berkantor di Kawedanan Wlingi sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Hindia Belanda,” ujar Wisnu, menceritakan sosok Karto Wibowo.
Selain pernah menjadi wakil kepala kejaksaan, Kartowibowo juga sempat menjabat sebagai dewan asisten ahli di bidang pertanian Hindia Belanda. Jabatan itu merupakan salah satu jabatan strategis yang pernah dijabat Kartowibowo.
Kartowibowo sangat berperan di dunia pendidikan karena sempat mendirikan sekolah pertanian di Magelang.
Dia juga berperan dengan adanya taman siswa di Blitar karena menerima surat pengarahan dari Ki Hajar Dewantara.
Dari pengalamannya di pendidikan dan pertanian ini, Kartowibowo sering menjadi teman berbagi ilmu bagi Soekarno.
Sosok Kartowibowo ini dikenal sebagai ahli pertanian yang memiliki ilmu pengajar. Dia lulusan dari Sekolah Tinggi Pertanian Bogor (sekarang IPB, Red) yang kemudian bekerja sebagai pegawai negeri Hindia Belanda.
Sebagai pegawai negeri, Kartowibowo berpindah tugas dari satu kota ke kota lainnya. Beberapa kota yang pernah menjadi tempat tugasnya antara lain Jombang, Tulungagung, Mojokerto, Nganjuk, Madiun, Kediri, Semarang, Salatiga, hingga berakhir Blitar.
Sebelum pindah ke Blitar itulah, Kartowibowo membangun gerakan mencerdaskan rakyat di bidang pertanian.
Dia dipindah di Blitar untuk menjadi guru di Noormal School yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. (jar/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila