BLITAR - Hingga tahun ini, ratusan pria di Bumi Bung Karno telah mengikuti program metode operasi pria (MOP) atau vasektomi.
Salah satu program keluarga berencana (KB) ini memang masih kurang diminati. Selain karena harus operasi permanen, juga banyak suami yang dilarang istri.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Blitar, Parminto mengungkapkan, MOP adalah salah satu metode kontrasepsi permanen yang dilakukan pria untuk mencegah kehamilan istri.
Namun, peran pria dalam menyukseskan program KB belum signifikan. “Iya, karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan tidak semua laki-laki mau ya,” ungkapnya kepada Koran ini beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data yang dihimpun DP3AP2KB Kota Blitar pada periode akhir 2023 hingga Agustus 2024, tercatat 249 pria telah mengikuti MOP yang digelar oleh dinas.
Tahun ini ditargetkan bertambah 20 pria untuk mengikuti MOP. “Nah, kenapa kok targetnya cuma sedikit, sebab mencari orang yang mau ini kan juga sulit,” terangnya.
Menurut dia, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti MOP atau vasektomi ini. Yakni, harus sudah berkeluarga secara resmi, telah memiliki minimal dua anak, dan izin dari keluarga.
Beberapa kendala yang sering ditemui di antaranya, kebanyakan pria takut mengikuti proses operasi, terkendala kondisi kesehatan, dan menunda mengikuti MOP karena masih ingin menambah momongan.
“Biasanya istri juga tidak mengizinkan, karena kalau sudah vasektomi kan aman ke mana-mana, takutnya ‘jajan’ sembarangan,” bebernya.
Padahal, jelas dia, pria yang mau mengikuti program vasektomi ini oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar diberikan uang pengganti sebesar Rp 1,6 juta karena pascaoperasi tidak diperbolehkan bekerja lebih dulu. Angka tersebut telah meningkat dibanding dua tahun sebelumnya sebesar Rp 1,5 juta.
“Vasektomi ini risiko atau efek sampingnya sangat minim ya. Ini juga tidak memengaruhi gairah, tetap bisa ereksi, orgasme, dan ejakulasi, sebab yang dipotong hanya saluran vas deferens,” jelasnya.
Dia berharap dalam menyukseskan program KB ini tak hanya perempuan yang berperan aktif. Sebab, pria juga bisa turut mendukung gerakan ini melalui berbagai cara, salah satunya dengan MOP.
“KB bukan persoalan ibu-ibu saja, kalau istri tidak KB karena kondisi kesehatan atau semacamnya, harapan kami bapak-bapak juga bisa mendukung itu,” pungkasnya. (ham/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila