BLITAR - Perkembangan pinjaman online (pinjol) beberapa tahun terakhir ternyata juga berdampak pada usaha koperasi simpan pinjam yang lesu. Bahkan, masifnya, pinjol ini membuat beberapa koperasi gulung tikar.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Menengah (Diskopum) Kabupaten Blitar, Sri Wahyuni menjelaskan, pertumbuhan koperasi simpan pinjam mulai meredup sejak Covid-19 melanda Kabupaten Blitar. Hal ini semakin parah ketika berbagai aplikasi pinjol semakin marak dan masif dimanfaatkan masyarakat.
“Meredupnya ini secara omzet, sejak pandemi sudah berkurang. Tapi, penurunan omzet karena adanya pinjol ini kami masih belum tahu. Tetapi ada kemungkinan ini menjadi salah satu penyebabnya,” ungkapnya.
Dari data terakhir Desember 2023, ada sekitar 150 koperasi simpan pinjam (KSP), sedangkan untuk usaha simpan pinjam ada 300 koperasi. Dari data tersebut, sudah ada satu KSP yang melaporkan tidak mampu beroperasi lagi.
Tidak hanya itu, ada sekitar 50 koperasi KSP dan USP yang sudah tidak lagi melaporkan kinerja koperasinya selama dua tahun terakhir.
“Walaupun ada pengurangan, namun masih ada penambahan. Kebanyakan itu di sektor riil, jadi bukan KSP. Saya kira penurunan ini selain ada persaingan di lapangan, pengajuan pendirian KSP juga semakin sulit. Yang dulu Rp 75 juta saja sudah bisa, sekarang itu harus minimal Rp 500 juta,” jelasnya.
Dia mengaku bahwa penurunan tersebut memang wajar karena untuk KSP persainganya cukup ketat.
Selain adanya pinjol, ada juga perbankan yang juga melakukan peminjaman ke nasabahnya. Karena itu, diskopum mengarahkan untuk mendirikan USP dari pada KSP.
Selain itu, kemudahan sistem pinjol untuk pengguna dalam meminjam menjadi salah satu alasan tambahan.
Bahkan, perbandingan dalam kemudahan ini cukup besar karena pinjol sudah menggunakan aplikasi.
Pengguna cukup bermodalkan KTP, memasukkan data diri dan berfoto dengan menunjukan KTP.
Hal ini berbeda dengan meminjam di koperasi yang membutuhkan jaminan tertentu jika ingin meminjam dana. (mg2/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila