BLITAR - Seni aquascape yang menawarkan keindahan dalam akuarium memiliki daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya.
Tak terkecuali Antrista Dio Prawira, warga Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul. Menjadi salah satu anggota komunitas Blitar Aquascape, dia berupaya membumikan keindahan bawah air kepada masyarakat.
Teriknya siang itu tak menghalangi semangat orang-orang untuk beraktivitas. Tampak pada salah satu rumah di Kelurahan Kepanjenkidul, seorang pemuda mengutak-atik akuarium dengan hiasan sedemikian rupa. Dialah Antrista Dio Prawira.
“Komunitas aquascape di Blitar sebetulnya sudah berjalan aktif, tetapi sepertinya belum terlalu popular di masyarakat. Artinya belum seantusias kota-kota lain seperti Kediri dan Malang,” ungkapnya mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Blitar.
Menurut dia, menikmati keindahan alat buatan di akuarium memang perlu perawatan dan ilmu yang tidak sembarangan. Melalui berbagai event, dia bersama rekan komunitasnya mengenalkan seni aquascape itu kepada masyarakat Blitar.
“Sejauh ini, event kami gelar dua kali dalam setahun. Yakni, waktu Blitar Djadoel sama Blitar Aquafest. Rencananya kami adakan event kecil-kecilan untuk pengenalan bahwa aquascape itu tidak sesulit yang dibayangkan kok,” tuturnya.
Bahkan, kata dia, jika sudah senang merawat bisa menjadi hobi yang berpeluang cuan. ”Kalau ada masyarakat yang tertarik bisa belajar bareng-bareng dengan rekan komunitas,” imbuhnya.
Dia menuturkan ada beberapa yang menjadi kendala bagi para pemula. Di antaranya, perawatan untuk tumbuhan air, serta konsistensi atau kesabaran dalam trial error.
Tak hanya itu, terkadang pemula belum mengetahui karakter tiap tumbuhan maupun ikan yang akan dimasukkan dalam akuarium.
“Untuk perawatan sebenarnya cukup perawatan harian, perapian rumput, dan maintenance. Nah, bagian maintenance ini yang sedikit riskan, apalagi kalau tanaman terkena algae itu perlu perlakuan khusus mulai dari pengobatan dan perawatan,” jelasnya.
Setting akuarium juga bukan perkara mudah. Pasalnya, gambaran di awal dan proses eksekusi bisa berbeda jauh tergantung ketersediaan bahan dari alam.
Setiap bahan memiliki detail dan karakter yang berbeda-beda sehingga perlu kreatif dalam mengolaborasikan bahan.
“Setting paling cepat, sehari bisa jadi. Namun jika rumit ya bisa sampai seminggu. Tergantung ukuran akuarium juga. Alternatif lain, jika ingin cepat juga bisa membeli jadi dengan harga mulai Rp 600 ribu,” ungkap pemuda yang terjun dalam dunia akuatik sejak 2018 ini.
Di samping belajar lewat komunitas, awalnya Dio belajar secara otodidak melalui tayangan video tutorial di media sosial. Tentunya dalam belajar tidak sekali langsung berhasil. Namun, perlu belajar dan berlatih.
“Akhirnya, saya memberanikan diri gabung dengan komunitas untuk menambah pengetahuan. Saya rasa masyarakat juga bisa membuat seni ini. Kuncinya sabar dan telaten,” pungkasnya. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila