BLITAR - Ratusan anak di Bumi Bung Karno terindikasi menjadi perokok aktif. Hal itu tentu menjadi sorotan berbagai pihak lantaran anak-anak ini akan menjadi generasi penerus bangsa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini mengungkapkan, perokok yang masih usia anak menjadi perhatian lebih. Penggalian data terus dilakukan agar generasi penerus ini tidak sampai terserang penyakit.
“Pendataan terus dimasifkan di sekolah-sekolah dan puskesmas,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, minggu (1/9/2024).
Menurut dia, pendataan ini memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, anak-anak kerapkali tidak jujur dalam pendataan. Penyebab anak-anak ini menjadi perokok, yakni usia remaja cenderung mencontoh dan dalam masa pencarian jati diri.
Berdasarkan data dihimpun Dinkes Kota Blitar, hingga Juni tercatat sebanyak 401 anak menjadi perokok. Jumlah ini menurun dibanding dengan tahun sebelumnya yang mencapai 1.516 anak.
“Data tersebut merupakan anak rentang usia 10-18 tahun. Bisa jadi orang tua tidak mengetahui kalau anaknya menjadi perokok. Sebab, anak-anak ini masih penasaran sehingga ingin coba-coba,” jelasnya.
Dinkes terus memberikan sosialisasi dan edukasi agar sejumlah anak tersebut berhenti merokok. Termasuk yang ditawarkan yakni melalui konseling pelayanan upaya berhenti merokok yang telah tersedia di puskesmas.
Kendati begitu, konseling tersebut tidak bisa hanya dilakukan sekali. Perlu dilakukan beberapa kali pertemuan dan tekad yang besar dalam melakukan konseling itu.
“Apalagi kalau sudah kecanduan ya, jangan sampai, nanti kalau sudah kena salah satu organnya baru benar-benar berhenti. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” tuturnya.
Edukasi efek bahaya rokok, lanjut dia, perlu digalakkan bagi para anak-anak. Sebab, berdasarkan penggalian data tren meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) salah satunya akibat paparan asap rokok.
Beberapa PTM yang berisiko di antaranya jantung koroner, stroke, penyakit paru kronis, dan diabetes.
Memulai untuk berhenti merokok menjadi langkah tepat untuk memberikan kesempatan pada organ-organ vital untuk pemulihan. Selain itu, berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan memberikan perubahan positif pada tubuh.
”Di puskesmas tiga kecamatan sudah kami sediakan fasilitas layanan berhenti merokok dengan harapan anak-anak yang masih memiliki masa depan panjang ini jangan sampai terlarut terlalu dalam,” pungkasnya. (ham/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila