BLITAR - Nur Harianto memiliki cara unik untuk mendapatkan peserta didik baru. Yakni dengan mengenalkan karawitan dan pendidikan budi pekerti tanpa imbalan ke sekolah. Alhasil, kini sekolah binaan pria tersebut bisa meraih prestasi dan dukungan dari pemerintah desa (desa).
Penampilan Nur Harianto memiliki ciri khas. Dia selalu menggunakan blangkon ketika mengajar kesenian karawitan.
Nur, sapaan akrabnya, mengaku menghidupkan karawitan dari kekhawatiran akan jumlah siswa SDN 1 Purwokerto dari tahun ke tahun yang semakin berkurang.
Apalagi, dia merupakan warga setempat dan pegiat seni sehingga tergerak masuk ke dunia pendidikan.
Ditunjang memiliki darah seni dari keluarga, dia lantas menawarkan inovasi berupa kegiatan seni karawitan untuk siswa di sekolah tersebut.
“Saya menawarkan kepada kepala sekolah untuk menghidupkan kesenian karawitan untuk anak SDN 1 Puwokerto,” ungkapnya sambil memperlihatkan video penampilan anak didiknya.
Dari ide itu, dia akhirnya mendapat lampu hijau serta dukungan dari kepala sekolah. Tahun 2016, dia mulai melatih siswa kelas IV sampai VI hingga menjadi sebuah ekstrakulikuler sampai sekarang.
“Antusiasme siswa sangat luar biasa, hingga kelas lainnya pun ikut termasuk kelas I,” terang pria yang juga pembina ekstrakurikuler karawitan di SMPN 3 Srengat ini.
Dia beralasan memilih karawitan sebagai jalan keluar permasalahan untuk sekolah itu kerena kesenian merupakan identitas asli dari Jawa. Dengan demikian, ini sebagai wahana untuk mengenalkan kepada mereka.
Tak dipungkiri, awal melatih anak didiknya sangat sulit, terutama dalam mengondisikan suasana.
Namun, kendala tersebut tetap dihadapi dengan riang gembira. Dia memiliki cara mengajar sendiri, baik melatih teknik bermain atau mengondisikan anak-anak.
“Namanya anak dari nol belum tahu notasi dan cara mukulnya. Saya punya cara lain, yakni dengan menulis notasi lalu meminta siswa mukul satu notasi dulu sampai hafal, dan begitu seterusnya. Mereka sampai hafal jarak notasi,” jelasnya.
Saat semua sudah hafal, dia lantas membagi tugas untuk siswa diajarkan ke alat lain misal bonang, gong, kenong. “Saya arahkan satu per satu siswa sampai menjadi suara yang padu,” katanya.
Tidak semua siswa cepat dalam penangkapan materi. Itu menjadi salah satu kesulitan yang dihadapinya saat melatih.
“Setiap anak memiliki tanggap sasmito atau kecerdasan berbeda, jadi memang harus benar-benar sabar dan telaten,” ungkapnya
Dia memiliki cara tersendiri dalam menumbuhkan minat keseniaan karawitan pada siswa. Yakni dengan memilih atau menawarkaan pada siswa terkait gending terbanyak disukai. Tujuannya agar mereka bisa menikmati irama.
Dengan jerih payah selama delapan tahun itu, dia berhasil membawa anak didiknya mengikuti beberapa event penampilan, baik undangan maupun lomba.
Di tahun 2016 lalu, grup karawitannya tampil pada acara pelantikan Kaur Kesra Desa Purwokerto. Lalu, pada Juli 2024 menyabet juara 3 di tingkat kabupaten yang diadakan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Blitar.
Selain mengajarkan teknik karawitan pada siswa, dia pun menyelipkan pelajaran tentang sikap tata krama. Mulai dari cara berjalan, duduk, dan unggah-ungguh.
“Terkadang prihatin anak-anak zaman sekarang tata kramanya sudah mulai luntur. Saya tidak ingin seperti itu. Kita orang Jawa, jadi unggah-ungguh ke orang lebih tua harus ditanamkan,” tandasnya.
Di samping aktif di kegiatan seni, dia kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Seni dan Sejarah Kecamatan Srengat, Ketua Gerakan Mencegah dan Mengobati (GMDM) Kabupaten Blitar, dan Ketua Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Desa Purwokerto. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila