Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Geliat Komunitas Seniman Reog Ponorogo di Blitar, Tak Terikat Anggota, Terbuka bagi Generasi Muda yang Ingin Berkarya

Muhamad Ilham Baha’udin • Senin, 9 September 2024 | 18:23 WIB
SEMANGAT LESTARIKAN SENI: Kru Bujang Ganong Blitar ketika tampil di acara pernikahan beberapa waktu lalu.
SEMANGAT LESTARIKAN SENI: Kru Bujang Ganong Blitar ketika tampil di acara pernikahan beberapa waktu lalu.

BLITAR - Para seniman reog Ponorogo terus berupaya untuk mempertahankan napasnya agar tetap hidup di Bumi Proklamator. Tak terkecuali bagi Rea-Reo Community, komunitas Bujang Ganong asal Blitar yang berikhtiar melestarikan warisan leluhur di tengah perubahan zaman. 

Kesenian reog Ponorogo tidak hanya eksis di kota asalnya. Namun juga lestari di Kota Blitar. Rea-Reo Community menjadi salah satu komunitas reog yang mempopulerkannya.

Mereka telah tampil di berbagai acara sehingga tidak diragukan lagi untuk menghibur masyarakat Blitar Raya.

Komunitas ini kerap kali menunjukkan keahliannya sebagai Bujang Ganong dalam kesenian reog Ponorogo.

Bujang Ganong merupakan salah satu tokoh dalam kesenian reog Ponorogo yang digambarkan sebagai sosok yang tangkas, berkemauan keras, cerdik, sakti, sekaligus kocak. Kendati begitu, ternyata untuk memerankan sosok tersebut bukanlah perkara mudah.

“Apalagi kalau belajar dari nol ya, butuh waktu dan proses yang tidak sebentar untuk meluweskan tubuh dan mencari tarian yang cukup sulit. Jadi, kalau mau belajar jangan setengah-setengah,” ungkap salah satu pendiri komunitas, Wahyu Alfendo.

Dia menceritakan, komunitas ini awalnya dibentuk pada 2017 untuk memfasilitasi para seniman ganongan di Blitar. Selain itu, melalui komunitas ini juga sebagai cara menjalin silaturahmi antar pegiat seni dan latihan bersama.

“Awalnya itu dari ketua kami, Mas Muji, yang merupakan pemain ganongan senior dari 2010-an. Seiring berjalannya waktu, mulai 2016, saya iseng ikut tampil dari panggung ke panggung,” jelasnya.

Melihat banyaknya tawaran membuat Wahyu harus merekrut orang lebih banyak. Praktis, dia memanggil sejumlah pemain dari jauh sehingga membutuhkan modal lebih.

Dari situlah terkumpul penari bujang ganong dari Blitar, hingga akhirnya terbentuk sebuah komunitas tersebut.

“Sebenarnya komunitas kami ini bersifat fleksibel ya, jadi untuk keanggotaan kami memang tidak terikat penuh. Kami sangat terbuka apabila ada anak-anak atau pemuda yang tertarik mempelajari kesenian ini,” bebernya.

Menurutnya, seiring perkembangan zaman, kesenian serupa kian minim dilirik generasi muda. Perlu usaha lebih untuk menggaet minat para generasi muda. Padahal, kesenian ini merupakan salah satu warisan leluhur yang sarat akan nilai.

“Alhamdulillah, peminat di Blitar sebenarnya banyak ya. Ada yang belajar melalui sanggar kesenian, paguyuban, atau bahkan belajar secara otodidak. Akan tetapi, karena minimnya seniman di Blitar, kita juga perlu mencari bibit-bibit yang kelak meneruskan kesenian tradisional ini,” pungkasnya. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#reog ponorogo #warisan leluhur #Kota Blitar #Bujang Ganong