BLITAR - Ribuan warga keluar-masuk alias pindah domisili Bumi Penataran sepanjang Januari- Agustus tahun ini. Menikah menjadi salah satu alasan perpindahan penduduk ini.
Kabid Pendaftaran Penduduk, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Blitar, Adi Sulaksono mengatakan, ada 7.400 jiwa yang pindah keluar dari Kabupaten Blitar.
Sedangkan, warga luar daerah yang masuk sekitar 6.300 jiwa. Data ini adalah akumulasi pindah domisi hingga Agustus.
“Pindah domisili ini yang kami catat ada dua jenis, yakni pindah masuk dan keluar. Memang banyak yang pindah keluar. Sedangkan pindah masuk ini yang datang ke Kabupaten Blitar dari kota lain. Yang pindah antar kecamatan dan desa juga banyak,” ujar Adi yang ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, alasan utama masyarakat pindah domisili ini adalah untuk kepentingan pernikahan.
Selain itu, ada juga karena pekerjaan dan pendidikan yang mengharuskan mereka mengurus surat pindah domisili.
Adi menegaskan, pihaknya melayani penerbitan surat pindah domisili ini sesuai permintaan pemohon.
Menurutnya fenomena pindah domisili ini merupakan hal lumrah. Sebab, pindah domisili merupakan hak masyarakat yang harus dilayani dan dipenuhi.
“Pindah domisili ini memang mengurangi populasi masyarakat di Kabupaten Blitar. Namun tidak signifikan. Meski ada masyarakat pindah keluar, jumlah yang pindah masuk juga tidak sedikit,” ungkapnya.
Untuk mengurus pindah domisili ini tidak banyak syarat yang dibutuhkan. Di antaranya, fotocopy kartu keluarga (KK) dan mengisi formulir f-103 yang bisa dilakukan di kantor dispendukcapil dan kantor desa.
Dalam satu surat pindah domisili, lanjut dia, biasanya tak hanya untuk satu orang. Sebab, pindah domisili terkadang dilakukan bersama anggota keluarga lainnya.
Umumnya, masyarakat pindah ke daerah yang masih dalam lingkup eks-Karisidenan Kediri seperti Kota Blitar, Kediri, Tulungagung, dan sekitarnya.
Kendati demikian, tak jarang warga yang kini tinggal di Bumi Penataran ini juga berasal dari luar pulau. Beberapa di antaranya dari Kalimantan dan lintas provinsi lainnya.
“Alasan masuk ke Kabupaten Blitar juga beragam, ada yang memang kembali ke daerah asal setelah selesai pendidikan atau pensiun dari pekerjaan,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila