Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jadi Agenda Tahunan Kabupaten Blitar, Begini Awal Mula Tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah

Jihan Wahida Rahma Salsabila • Rabu, 18 September 2024 | 00:00 WIB
Prosesi tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah pada Selasa (17/9/2024)
Prosesi tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah pada Selasa (17/9/2024)

BLITAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar kembali gelar agenda tahunan, Jamasan Gong Kyai Pradah pada Selasa (17/9/2024). Tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah ini diadakan di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Jamasan Gong Kyai Pradah merupakan tradisi pemandian benda pusaka berupa Gong Kyai Pradah dengan air kembang setaman.

Tradisi ini bermaksud sebagai sarana memohon berkah dari kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam gong tersebut.

Jamasan Gong Kyai Pradah atau yang juga disebut Siraman Gong Kyai Pradah telah dikenal secara luas oleh masyarakat. Masyarakat lokal hingga luar daerah selalu memadati lokasi prosesi pemandian Gong Kyai Pradah untuk ngalap (meminta) berkah.

Selain itu, para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi Jamasan Gong Kyai Pradah akan berebutan mendapat air bekas siraman karena air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat awet muda.

Melansir dari laman blitarkab.go.id, berdasarkan penelusuran Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927, Gong Kyai Pradah bermula dari pasukan tentara Demak yang akan memerangi kerajaan Majapahit diikuti dari belakang oleh Sunan Kudus membawa bende (gong) bernama Kyai Macan.

Pada masa itu, wilayah sekitar Majapahit masih berupa hutan. Ketika Kyai Macan dipukul, keluar suara menyerupai harimau mengaum yang dapat terdengar ke segala penjuru.

Mendengar suara tersebut, tentara Majapahit ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan karena mengira pasukan Demak mengerahkan harimau siluman. Hal ini tentu memudahkan pasukan Demak memasuki wilayah Majapahit dan mendudukinya.

Setelah kerajaan Majapahit roboh, kemudian kerajaan Demak berdiri dan Kyai Macan dijadikan pusaka Demak yang disatukan dengan gamelan Sahadatin. Sejak itu, Kyai Macan berpindah-pindah menjadi pusaka Pajang dan Kartosuro.

Menurut cerita, Sunan Paku Buwono I memiliki seorang putra dari garwo ampeyan (selir) bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi (permaisuri) belum memiliki putra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat sebagai raja yang menggantikan dirinya. Namun, ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra.

Untuk menghindari perang saudara, Sunan Pakubuwono I meminta Pangeran Prabu pergi ke hutan Lodoyo untuk mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit (angker) sehingga gong Kyai Macam diberikan kepada Pangeran Prabu sebagai tumbal.

Pangeran Prabu bersama istrinya, Putri Wandansari pergi ke hutan tersebut disertai beberapa abdi. Titah mendirikan kerajaan bukan alasan sebenarnya Sunan Paku Buwono I meminta Pangeran Prabu pergi ke hutan Lodoyo.

Sunan Paku Buwono I ingin Pangeran Prabu tewas di hutan yang terkenal angker itu yang mana tidak ada satu pun manusia yang dapat selamat dari situ.

Di sisi lain, Pangeran Prabu sebenarnya telah mengetahui niat asli Sunan Paku Buwono I terhadap dirinya. Pangeran Prabu sendiri tidak ingin mendirikan kerajaan karena beliau adalah seorang ulama besar.

Pangeran Prabu berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghilangkan jejaknya. Beliau mengadakan pengajian setiap menempati tempat tinggal baru.

Kemudian Pangeran Prabu mendirikan pondok bernama Pondok Pangeran Prabu atau yang lebih dikenal dengan Panembahan Imam Sampurna. Pondok yang didirikannya ini memiliki banyak murid yang terus bertambah.

Keberhasilan itu terdengar oleh Adipati Srengat bernama Pangeran Martodiningrat dan dilaporkannya ke Kartosuro karena dikhawatirkan Pangeran Prabu akan mendirikan kerajaan. Kartosuro kemudian mengirim tentaranya dibantu oleh kompeni Belanda.

Mengetahui hal tersebut, Pangeran Prabu bersembunyi di hutan Kedung Bunder dan mengganti namanya menjadi Mbah Tjingkrang yang berarti ‘maksud beliau belum tercapai’.

Pangeran Prabu yang berganti nama menjadi Mbah Tjingkrang itu menetap di Kedung Bunder sampai akhir hayatnya. Makamnya menjadi punden keramat (tempat makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa atau tempat keramat yang dihormati).

Karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan yang dibawa Pangeran Prabu saat ke hutan Lodoyo itu dititipkan ke Nyi Partosoeto.

Beliau memberi pesan kepada Nyi Partosoeto bahwa setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal, Kyai Macan disiram dengan air kembang setaman dan diborehi (dibalur/dioles).

Air bekas siraman Kyai Macan dikatakan dapat digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu turun ke Kyai Rediguno, dan turun lagi ke Ki Imam Setjo yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni.

Baca Juga: Selain Pindah Domisili, Sebanyak 7 Ribu Orang Keluar Kabupaten Blitar, Ternyata Ini Alasan Utamanya

Ketika Kyai Macan disimpan oleh Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang janggal mengenai jiwa penduduk. Saat itu, ketika ada seorang bayi lahir pasti ada orang yang meninggal dunia.

Di tengah itu, seseorang mendapat pesan dari sebuah mimpi yakni diminta nyekar/ziarah ke Kyai Macan supaya anaknya terhindar dari serangan penyakit.

Pesan dari mimpi tersebut kemudian dilaksanakan dan kejadian janggal tersebut berhasil diatasi. Dari tindakan itu kemudian banyak diikuti kalangan masyarakat hingga tersebar ke tempat yang jauh.

Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Atas kebaikan tersebut, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah.

Tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah hingga sekarang rutin diadakan pada tiap tahunnya. Tradisi ini bukan hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sebagai wujud pelestarian warisan leluhur yang telah berlangsung selama berabad-abad. (anindya)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#siraman gong kyai pradah #Kabupaten Blitar #blitar #kyai macan #jamasan gong kyai pradah #gong kyai pradah