Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jamasan Gong Kiai Pradah di Alun-Alun Lodoyo Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat Blitar, Ini Pesan Bupati

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 18 September 2024 | 15:05 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Bupati Rini Syarifah mengikuti prosesi siraman Gong Kiai Pradah di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, kemarin (17/9).
LESTARIKAN BUDAYA: Bupati Rini Syarifah mengikuti prosesi siraman Gong Kiai Pradah di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, kemarin (17/9).

BLITAR - Ribuan warga memadati Alun-Alun Lodoyo untuk mengikuti rangkaian jamasan Gong Kiai Pradah Selasa (17/9/2024). Momen tersebut tidak hanya sebagai sarana melestarikan budaya. Tapi, juga penggerak ekonomi masyarakat Bumi Penataran.

Pantauan koran ini, warga Bumi Penataran tumpah ruah mengelilingi tempat acara jamasan Gong Kiai Pradah. Mereka rela berdesakan dan berdiri di bawah terik matahari agar mendapatkan berkah dari air jamasan pusaka tersebut.

Tidak hanya itu, mereka juga merebutkan gunungan hasil bumi yang disediakan dalam rangkaian acara tahunan ini.

Photo
Photo

“Saya berharap masyarakat mendapatkan berkah dari acara jamasan Gong Kiai Pradah. Semoga kegiatan ini terus dilestarikan. Karena dampak wisata, budaya, dan ekonominya luar biasa. Saya yakin ada masyarakat luar kota yang jauh-jauh datang untuk melihat acara kebudayaan ini,” ujar Bupati Blitar Rini Syarifah yang ditemui di sela-sela jamasan Gong Kiai Pradah.

Dia melanjutkan, acara budaya yang diselenggarakan setiap Maulud (penanggalan Jawa, Red) ini sudah menjadi tradisi masyarakat.

Bahkan, jamasan ini telah diakui secara nasional dan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) sejak 2017 silam. Karena itu, kegaiatan ini harus dilestarikan agar anak cucu paham akan seni dan budaya Kabupaten Blitar.

Mak Rini menambahkan, jamasan Gong Kiai Pradah ini juga menjadi pengungkit ekonomi masyarakat.

Bahkan,  ada juga pelaku usaha kecil dari luar daerah yang ikut berburu keuntungan pada momen tersebut.

Menurutnya, hal ini secara otomatis meningkatkan daya ekonomi masyarakat Kabupaten Blitar.

“Kami melihat warga Kabupaten Blitar sangat antusias dan tertib selama proses jamasan Gong Kiai Pradah ini. Maka dari itu, kami berharap masyarakat dapat guyub rukun dengan adanya kegiatan budaya ini,” ungkapnya.

Baca Juga: Tak Berdampak, Pelaku UMKM di Blitar Belum Komplain Kelangkaan Gas LPG 3 Kg, Asumi: Sektor Usaha Masih Aman

Prosesi jamasan Gong Kiai Pradah ini diawali dengan pengambilan benda pusaka itu di sanggar. Lalu diarak menuju tempat pemandian yang berada di tengah Alun-Alun Lodoyo. Bupati Blitar bersama para tokoh dan sesepuh di Kecamatan Sutojayan ikut memandikan Gong Kiai Pradah.

Yang unik dalam prosesi budaya ini adalah antusiasme masyarakat terhadap air bekas jamasan pusaka tersebut. Mereka rela berdesakan di bawah tempat jamasan untuk mendapatkan air jamasan Gong Kiai Pradah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso mengatakan, ritual jamasan Gong Kiai Pradah menjadi salah satu agenda kegiatan yang spesial di Kabupaten Blitar dan selalu dihadiri masyarakat dari berbagi daerah.

Karena itu, pihaknya juga terus berusaha agar event tahunan tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami belum bisa memastikan berapa besar dampak ekonomi dari event wisata ini. Saat ini, tim sedang mengumpulkan data. Tapi secara umum terlihat ada peningkatan, melihat keramaian warga yang datang. Semoga juga ada dampak peningkatan ekonominya,” tutupnya. (jar/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Rini Syarifah #Kabupaten Blitar #jamasan gong kyai pradah