Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengintip Aktifitas Paguyuban di Selopuro Blitar, Fokus Jajanan Tradisional, Gotong Royong dan Kejujuran

Yanu Aribowo • Senin, 23 September 2024 | 16:27 WIB

 

KOMPAK: Aktivitas Paguyuban Sari Roso yang ada di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, setiap pagi hari.
KOMPAK: Aktivitas Paguyuban Sari Roso yang ada di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, setiap pagi hari.

BLITAR - Rutinitas pagi di ruas jalan dekat Pasar Templek, Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat setempat.

Di desa yang berbatasan dengan Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, ini terdapat paguyuban yang fokus memproduksi aneka jajanan tradisional untuk diedarkan ke berbagai tempat di wilayah Blitar Raya dan sekitarnya. Modal utama paguyuban ini adalah gotong royong dan kejujuran.

Paguyuban ini aktif sejak 2012 lalu dan yang menjalankan adalah masyarakat Desa Ploso. Dulu paguyuban ini dipelopori oleh beberapa warga yang memproduksi dan memasarkan jajanan tradisional.

Dalam perjalanan waktu akhirnya semakin berkembang dan menarik minat warga sekitar untuk menekuni usaha jajanan tradisional. Untuk persebaran anggota paguyuban mayoritas berada di Dusun Ploso, dan sebagian di Dusun Kasim.

Saat ini, praktis aktivitas produksi berjalan berputar mulai siang, malam, hingga dipasarkan sejak pukul 05.00 WIB. Aktivitas pertemuan pembuat jajanan tradisional dan bagian pemasaran terjadi di kawasan Pasar Templek, Desa Ploso.

“Saat ini, Ketua Paguyuban Sari Roso adalah Bapak Samsul Arif,” jelas Kepala Urusan Perencanaan Desa Ploso, Nahrowi.

Yang menarik, selain gotong royong, kejujuran menjadi modal utama perjalanan paguyuban ini. Yakni, adanya penerapan sistem kejujuran antara pembuat jajanan tradisional dengan bagian pemasaran.

Pagi di Pasar Templek, saat antar jajanan tradisional kesibukan sangat tinggi, sehingga untuk mempercepat transaksi dibutuhkan sistem taruh jajanan dan ambil uang hasil penjualan hari sebelumnya. Ada sebuah nampan untuk tempat dompet yang dilabeli nama-nama para pembuat jajanan.

“Seandainya ada selisih, antara jajanan yang ditaruh dan uang hasil penjualan sehari sebelumnya, bisa ditindaklanjuti dengan berembuk,” jelas pria 30 tahun.

Aneka jajanan tradisional yang diproduksi antara lain, lumpia, kue lumpur, putu ayu, risoles, roti kukus, onde-onde, plenggong, mendhut, lemper, mochi, minasti, kue pukis, cucur, ireng-ireng, lapis basah, bikang, dadar gulung, nagasari, klepon, dan lainnya.

Selain itu, anggota paguyuban ini juga ada yang memproduksi produk jajanan kering yang fokus melayani pengiriman ke Kota Batu. Misalnya, keripik belut, keripik tempe, keripik jamur, dan lainnya.

Saat ini, setidaknya ada sebanyak 150 keluarga yang fokus menjadi produsen aneka jajanan tradisional, dan sebanyak 50-an warga Desa Ploso, yang fokus menjualnya di berbagai tempat di wilayah Blitar Raya dan sekitarnya.

Untuk mempererat silaturahmi, sebulan sekali para anggota paguyuban berkumpul untuk arisan hingga musyawarah. (apr/ynu)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Paguyuban #jajanan tradisional #Kecamatan Selopuro