Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kepergiannya Ditangisi Banyak Orang, Ini Keistimewaan yang Dimiliki Gus Lik Menurut Gus Iqdam

Jihan Wahida Rahma Salsabila • Selasa, 24 September 2024 | 01:00 WIB
Gus Iqdam turut menyampaikan bela sungkawa atas kepulangan Gus Lik ke Rahmatullah
Gus Iqdam turut menyampaikan bela sungkawa atas kepulangan Gus Lik ke Rahmatullah

BLITAR - Kabar kepergian KH Douglas Toha Yahya atau Gus Lik meninggalkan duka yang cukup mendalam. Isak tangis dirasakan masyarakat saat mengunjungi pemakaman Gus Lik di kota Kediri untuk memberikan penghormatan terakhir.

Gus Lik dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (21/9/2024) malam pukul 22.40 WIB. Ulama asal Kediri itu sempat dirawat di rumah sakit, namun takdir berkehendak bahwa dirinya menghembuskan nafas terakhir di RS Bhayangkara Kediri.

Gus Lik dimakamkan di lahan kosong dekat musala (Langgar Kulon) di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Assa'idiyah pada Minggu (22/9/2024). Musala tersebut adalah tempat Gus Lik menggelar pengajian bersama para jemaahnya.

Tempat peristirahatan terakhir Gus Lik yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu dipadati ribuan warga yang berkunjung. Mulai warga lokal hingga luar daerah datang memberikan penghormatan terakhir.

Sejumlah pengasuh pondok pesantren (ponpes), pejabat hingga kalangan ulama berbela sungkawa atas wafatnya Gus Lik. Termasuk Gus Iqdam, pendakwah muda asal Blitar turut menyampaikan dukanya atas kepulangan Gus Lik ke Rahmatullah.

Gus Iqdam mendengar kabar duka itu saat menggelar pengajian di daerah Udanawu, Kabupaten Blitar. Pendiri Majelis Sabilu Taubah itu mengajak jemaah pengajiannya untuk mengucapkan bela sungkawa atas wafatnya Gus Lik.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Niki wonten (ini ada) kabar duka, salah satu masyayikh asal Jamsaren, Gus Lik telah berpulang ke Rahmatullah,” ucap gus yang bernama lengkap Muhammad Iqdam Kholid itu.

Pendakwah muda usia 29 tahun itu menggambarkan sosok Gus Lik sebagai seorang Auliya Illah (kekasih Allah SWT) yang sangat dihormati dan dicintai oleh banyak orang. Dia menerangkan bahwa Gus Lik memiliki puluhan ribu jemaah sudah sejak lama.

“Beliau niki (ini) Auliya Illah, kekasih Gusti Allah. Mbah Lik niku (itu) istimewa. Jemaahnya sudah puluhan ribu sejak dari dulu,” ungkap pendiri ST Nyell itu.

Pengajian yang digelar Gus Lik selalu dinantikan oleh para jemaahnya. Meski menggunakan gaya berdakwah sederhana, Gus Lik sukses menarik masyarakat luas dalam pengajiannya. Hal ini diakui oleh Gus Iqdam yang menerangkan bahwa tidak ada yang dapat menandingi keramaian jemaah pengajian Gus Lik.

“Di pengajiannya Mbah Lik niku (itu) sederhana, tapi ramai yang datang. Apapun majelis yang ada, belum ada yang bisa mengalahkan ramainya majelis Gus Lik,” ujarnya.

Gus Lik mempertahankan penampilan dan gaya dakwahnya yang sederhana di tengah era yang semakin modern. Berbeda dengan Gus Iqdam, dia menerapkan gaya dakwah modern dalam pengajiannya karena menyesuaikan perkembangan zaman.

“Penampilannya Mbah Lik niku (itu) sederhana, tidak seperti saya ini. Pengajiannya pun juga sederhana, tidak seperti ST (Sabilu Taubah) yang agak milenial gini,” pungkas Gus Iqdam.

Gus Iqdam mengungkapkan bahwa keberhasilan majelis yang didirikannya ini adalah dampak positif dari pengajian Gus Lik dimana menciptakan suasana damai di pengajiannya.

Suasana damai terlihat dari para jemaah yang duduk bersama tanpa memandang perbedaan latar belakang. Budaya ini diterapkan Gus Iqdam melalui majelis Sabilu Taubah hingga sekarang dan pengajiannya dapat berjalan dengan damai. (anindya)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#gus iqdam #blitar #kediri #KH Douglas Toha Yahya #Gus Lik