BLITAR - Penyakit jantung masih menjadi pemegang penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pun, penyakit hipertensi menempati posisi teratas yang bisa memicu penyakit jantung jika tidak ditangani dengan benar.
Hal itu tentu menjadi perhatian serius bagi dinas terkait. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Dharma Setiawan mengungkapkan, hipertensi sebagai penyakit tidak menular (PTM) yang menempati posisi tertinggi di Bumi Bung Karno. Berdasarkan catatan dinkes, 40 persen PTM di Kota Blitar didominasi oleh hipertensi.
“Faktor pemicunya, masyarakat masih kurang aware dengan nyeri dada. Bahkan penanganannya biasanya dikeroki, minum minuman hangat, padahal ini salah,” ungkapnya, Hari Senin (23/9).
Dengan begitu, jelas dia, penanganan yang sangat lambat ini justru menyumbang terjadinya kematian karena telat mengambil tindakan.
Nyeri dada memang bisa terjadi karena nyeri biasa atau justru menjadi indikasi adanya penyakit jantung.
“Kami sudah ada aplikasi Detak C untuk deteksi dini dan mengklasifikasikan nyeri tersebut. Jika nyeri biasa diarahkan ke puskesmas, atau justru penyakit jantung perlu ditangani di rumah sakit yang memiliki dokter jantung,” jelasnya.
Aplikasi tersebut sudah berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelegent (AI) yang memberikan sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab oleh masyarakat.
Hasil jawaban tersebut kemudian diolah dan diberikan penjelasan mengenai nyeri dada, apakah hanya nyeri biasa atau indikasi penyakit jantung.
Seperti diketahui, nyeri dada menjadi salah satu indikasi adanya penyakit jantung. Selain itu, pemicu utama penyakit jantung karena kebiasaan merokok.
Dengan begitu, tidak heran jika penyakit ini berpotensi lebih besar pada pria dibandingkan perempuan.
Wali Kota Blitar Santoso mengungkapkan, aplikasi Detak C dapat membantu masyarakat mendeteksi kesehatan jantung.
Ketika terjadi keluhan, masyarakat tinggal membuka aplikasi dan melakukan deteksi dini agar bisa segera mengambil tindakan.
”Adanya aplikasi ini, masyarakat bisa lebih waspada dengan kesehatan dirinya, terutama menyangkut jantung sebagai inti kehidupan,” pungkasnya. (ham/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila