BLITAR - Kolaborasi antara Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) Program Studi D3 Keperawatan (Kampus 3 Blitar) dengan Pemerintah Desa Jimbe dalam membangun kesadaran warga terkait pencegahan hipertensi memasuki tahapan terakhir, Selasa (24/9).
Pengabdian selama 2 tahun tersebut membawa perubahan positif untuk masyarakat Desa Jimbe.
Sekretaris Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Mujito A Per Pen MKes mengatakan selama kegiatan pengabdian masyarakat 2022 hingga 2024 ini memang difokuskan pada hipertensi. Saat pertama pihaknya datang, angka prevalensi hipertensi cukup tinggi di Desa Jimbe.
Dari 356 responden, tercatat 89 warga menderita hipertensi. Sedangkan saat ini yang menderita hipertensi tersisa 74 jiwa saja. Hasilnya, sebagian normal kondisinya dan lainnya meninggal dunia sebanyak 3 orang.
“Kami menekan penggunaan obat medis harus diminum secara rutin dan teratur. Selain itu, membentuk 2 kelompok keluarga hipertensi yang bertugas melakukan deteksi dini hipertensi dan komplikasinya. Karena hipertensi bisa mengakibatkan penyakit jantung dan stroke,” ujar Mujito.
Meskipun kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Polkesma ini sudah rampung, Mujito bersiap untuk menjadi pendamping jika dibutuhkan oleh masyarakat Desa Jimbe.
Pihaknya akan mendampingi hingga dua kelompok itu dapat mengendalikan kasus hipertensi. Selain itu, pengurusnya dapat mandiri dalam pencegahan hipertensi.
Usai selesainya kegiatan di Desa Jimbe, Polkesma berencana melanjutkan pengabdian masyarakat di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum dan Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Mereka akan fokus pada penanganan gizi buruk.
“Fokus kami beralih, dari hipertensi menjadi gizi buruk pada balita. Karena banyak kasus gizi buruk balita di Kabupaten Blitar, terutama di Desa Sawentar,” ungkapnya.
Sementara itu, dokter Puskesmas Kademangan Silvia Nurlia Dewi mengatakan, progam pengabdian masyarakat Polkesma sangat mendukung adanya pencegahan hipertensi. Apalagi angka kasusnya paling tinggi di Kecamatan Kademangan.
Dari progam polkesma itu Silvia mendapatkan inovasi. Yakni akan menerapkan semua materi hingga pelatihan dari polkesma diterapkan pada posyandu masing-masing desa. Tentu hal itu untuk menurunkan angka hipertensi. Sedangkan penderita hipertensi dapat terkontrol dengan progam polkesma.
Baca Juga: Tak Disangka, Gus Iqdam Hadir di Acara Komunitas Pecinta Motor di Blitar, Begini Keseruannya
“Dari hasil standar pelayanan minimal (SPM), jumlah penderita hipertensi di Kademangan 2023 ada 23 ribu. Sedangkan jumlah lansia 11 ribu, sehingga yang mengidap hipertensi tidak hanya lansia saja,” tutur Silvia.
Dalam kegiatan penutupan pengabdian masyarakat ini, Polkesma juga mengundang stakeholder dari SPBE Moderna Teknik Perkasa. Pihak swasta yang dekat dengan Desa Jimbe, turut berperan berlangsungnya kegiatan ini.
Staf SPBE Moderna Teknik Perkasa, Sri Astuti menjelaskan, progam Polkesma sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk pencegahan hipertensi. Tentu dengan kegiatan ini masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
“Memang hipertensi tidak bisa disembuhkan. Namun, bisa dilakukan pencegahan dan mengendalikan hipertensi bagi penderita. Terutama dapat mengelola pikiran, agar terus berfikir positif,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila