BLITAR - Salah satu kesenian asli Blitar, Jaranan Jur resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Kesenian Jaranan Jur ini berasal dari Kabupaten Blitar, tepatnya di Dusun Ngasinan, Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso memberikan konfirmasi terkait Jaranan Jur resmi ditetapkan sebagai WBTB.
“Alhamdulillah tahun ini, kita mendapatkan penghargaan kembali WBTB untuk Jaranan Jur dari Ngasinan, Kecamatan Sutojayan," ujar Suhendro, dilansir dari laman detikJatim.
Suhendro menyebutkan peresmian Jaranan Jur menjadi WBTB ini menyatakan bahwa kesenian tersebut asal Kabupaten Blitar mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.
Selain itu, penetapan WBTB ini juga menjadi media promosi budaya dan menginspirasi muculnya budaya lain dari Blitar.
"WBTB itu artinya kesenian tersebut asli berasal dari Kabupaten Blitar. Jadi WBTB itu semacam hak paten yang diakui. Pengakuan yang dapat digunakan sebagai promosi wisata/budaya dan identitas daerah. Nah, dengan banyaknya WBTB menjadi barometer bahwa banyak muncul inspirasi atau budaya yang berasal dari Blitar," terangnya
Tak hanya Jaranan Jur saja, masih banyak lagi kesenian lain yang berasal dari Blitar. Begitu pula dengan kesenian asli Blitar yang juga diresmikan menjadi WBTB sebelum Jaranan Jur.
Apa saja kesenian asli Blitar yang lain? Berikut tiga kesenian asli Blitar yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
- Jaranan Tril
Sekilas kesenian jaranan nampak sama semua, namun berbeda dengan Jaranan Tril dimana kesenian ini merupakan versi lengkapnya dari kesenian jaranan yang ada. Jaranan Tril memiliki tiga unsur wajib dalam pertunjukannya yakni jaranan, barongan, dan celengan.
Dikutip dari buku 'Jaranan Tril' milik Henri Nurcahyo, seorang budayawan Brang Wetan, Jaranan Tril digambarkan sebagai prajurit andalan sekelas panglima.
Nama 'Tril' merujuk ke unsur gerak yang cepat dan atraktif mengikuti ritme gamelan yang lebih cepat dibandingkan dengan kesenian jaranan lain. Jaranan Tril mempunyai kecepatan gerak tinggi dengan singget (gerakan jeda yang merangkaikan dengan gerakan berikutnya) yang berbeda. Kesenian jaranan yang berasal dari kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar itu ditetapkan sebagai WBTB pada tahun 2021.
Baca Juga: Cuti Kampanye Pilkada 2024, Jumadi Resmi Gantikan Mak Rini Sebagai Pjs Bupati Blitar Selama 2 Bulan
- Reog Bulkiyo
Reog Bulkiyo adalah kesenian pertunjukan berupa tari perang antara golongan benar dengan golongan jahat. Kesenian asal Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar ini konon diciptakan oleh para prajurit Diponegoro pada tahun 1825. Pada masa itu, Reog Bulkiyo adalah media untuk latihan perang. Seiring perkembangan zaman, kesenian tersebut menjadi sarana ritual, hiburan dan seni pertunjukan.
Pagelaran Reog Bulkiyo diiringi empat jenis alat gamelan antara lain gong, kencrik, terbang (rebana), kenong dan terompet. Adapun kolaborasi seni genjringan, shalawatan atau seni baca Ambiya yang kental bernuansa Islam. Reog Bulkiyo ditetapkan sebagai WBTB pada tahun 2019.
- Kentrung
Kentrung adalah kesenian tradisional sastra lisan yang mewujudkan sarana komunikasi rakyat melalui simbol-simbol penokohan dan kehidupan masyarakat. Kesenian kentrung sendiri menyajikan cerita rakyat bernuansa Islam asli Jawa Timur.
Beberapa lakon yang sering dibawakan yakni kisah-kisah Wali Sanga, Jaka Tingkir, Aryo Blitar dan lainnya yang dibumbui dengan lawakan dan guyonan.
Kesenian kentrung terdapat di berbagai wilayah di Jawa Timur yakni Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Blitar tepatnya di Desa Dayu, Kecamatan Nglegok. Kesenian kentrung ini ditetapkan menjadi WBTB pada tahun 2013. (anindya)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila