BLITAR - Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, memiliki kesenian khas Jaranan Ging. Itu didirikan pada tahun 1953 oleh warga setempat.
Tiap gerakan dalam seni tersebut memiliki makna dan terinspirasi dari kegiatan para petani saat menunggu masa panen.
Kesenian jaranan tak hanya menawarkan gerak tarian dan alunan musik yang tersusun rapi. Namun juga menceritakan alur cerita dan nilai filosifi yang ada.
Jaranan Ging merupakan kesenian khas Desa Purwokerto dan sangat populer di masanya. Kesenian ini sempat menjadi primadona karena memiliki daya tarik tersendiri.
Warga desa setempat dan penerus generasi kesenian Jaranan Ging, Mbah Usub mengatakan, kesenian ini didirikan tahun 1953 oleh Moedjiat, warga Dusun Bedali, Desa Purwokerto.
“Tahun 1953 itu pemainnya masih 8 orang, yakni 6 orang penari jaranan, 1 orang penari barongan, dan 1 lagi penari celengan. Ada 4 pengrawit dan alatnya masih sedikit,” ujarnya.
Tujuan didirikannya kelompok Jaranan Ging waktu itu karena ketiadaan hiburan di desa tersebut di sela-sela menunggu masa panen.
Hingga mendorong seorang bernama Moedjiat membuat sebuah hiburan untuk masyarakat dan akhirnya mendirikan kesenian jaranan.
“Dulu sempat ragu apakah masyarakat minat dengan kesenian itu, tapi pada akhirnya banyak peminatnya,” ujar Mbah Usub saat mempertontonkan barongannya.
Dia menjelaskan, penamaan Ging pada kesenian jaranan itu berasal dari suara alat musik yang digunakan pada saat itu.
Yakni berupa kempul 1 buah, kenong 1 buah, kendang 1 buah, dan kethuk atau kendang kecil 1 buah. Suara tersebut menghasilkan suara dominan ging.
Yakni dari suara alatnya ketika dimainkan menghasilkan bunyi tung klik tung ging dan bunyi itu selalu diulang-ulang. “Sehingga dari suara alatnya itu, penciptanya sepakat memberi nama Jaranan Ging,” terangnya.
Secara filosofi, Jaranan Ging memiliki makna. Yakni menceritakan aktivitas kehidupan seorang petani.
Itu karena Mbah Moedjiat terinspirasi dari kegiatan sehari-hari warga Desa Purwokerto yang sebagian besar adalah petani. Dia kemudian menggambarkannya lewat kesenian jaranan.
“Dulu Mbah Moedjiat seorang petani dan seniman, lalu ingin mendirikan sebuah kesenian,” ujarnya.
Uniknya dari kesenian jaranan lain adalah gerakannya yang tidak diulang-ulang. Jaranan Ging memiliki 16 gerakan berbeda.
“Ging punya 16 gerakan. Itu dilakukan terus tanpa diulang-ulang. Maka, pemain harus punya fisik bagus. Gerakan Jaranan Ging ini dulu Mbah Moedjiat sendiri yang membuat,” tandasnya.
Setiap gerakan di Jaranan Ging memiliki makna sendiri. Gerakan 1 menoleh ke kanan ke kiri mengartikan petani memilih ternak untuk membajak; gerakan 2 mengartikan jam 3 pagi petani sudah melakukan aktivitasnya; gerakan 3 proses membajak sawah; gerakan 4 membuat pematung sawah.
Gerakan 5 menghaluskan tanah padat; gerakan 6 menggambarkan menutup benih; gerakan 7 menggambarkan menyiangi atau matun padi; gerakan 8 menggambarkan mencangkul tanah; gerakan 9 menggambarkan memupuk tanaman; gerakan 10 menggambarkan menghalau burung; gerakan 11 menggambarkan memindahkan benih padi; gerakan 12 menggambarkan akan memanen padi; gerakan 13 memindahkan hasil panen ke lumbung.
Gerakan 14 menggambarkan suka cita petani dengan hasil penen, serta gerakan 15 dan 16 menggambarkan rasa syukur tentang hasil panen diraih. “Semua gerakan itu dilakukan terus selama 1 jam penampilan,” tandasnya.
Keunikan lain Jaranan Ging adalah bentuk yang khas dari properti jaranannya. Kebanyakan kepala kuda jaranan menghadap ke bawah, tapi jaranan ini kepala kudanya menghadap ke depan.
“Bedanya, kepalanya menghadap ke depan karena menggambarkan makhluk hidup harus berpandangan dan menatap ke depan,” tandasnya.
Dia menambahkan, kelengkapan lain juga sama dengan kesenian jaranan pada umumnnya, termasuk ada celengan dan barongan.
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila