BLITAR - Musim pancaroba menyebabkan beberapa hewan khususnya pemamah biak jatuh sakit. Walaupun tidak terlalu membahayaan nyawa, penyakit ini bisa membuat napsu makan hewan ternak berkurang.
Di duga kondisi ini sudah terdeteksi sejak dua hari yang lalu, ketika cuaca mulai berubah tidak tentu.
“Karena cuaca tidak tentu, kadang panas dan kadang dingin menyebabkan hewan stres hingga merembet pada anti bodi hewan yang menurun,” terang dokter hewan yang membuka praktik di Kecamatan Talun, Riris Dian We Wahyu.
Dia menambahkan, penurunan daya tahan tubuh setiap hewan ini selalu berbeda. Sehingga menimbulkan dampak yang berbeda pula pada setiap hewan.
Namun yang pasti karena adannya penurunan ini, penyakit-penyakit yang berterbangan di sekitar bisa menyerang hewan yang dimiliki. Biasanya dampak yang paling sering terserang terjadi ialah gangguan pernafasan dan sakit mata.
Gangguan pernafasan ini seperti batuk dan pilek. Biasanya hal ini disebabkan oleh meningkatnya kelenjar lendir pada hewan yang sebenarnya bertujuan untuk melindungi.
“Batuk atau pilek ini merupakan usaha perlindungan anti bodi hewan sapi atau kambing untuk mengurangi lendir yang menumpuk tadi. Selain itu, karena hal ini hewan ternak juga bisa demam,” jelasnya.
Kendati berkesan sepele, jika tidak tertagani segera ini bisa menyebabkan napsu makan hewan berkurang.
Tidak berhenti disini, ngambeknya hewan ternak ini juga bisa mengakibatkan perut kembung. Namun, jika kendala ringan efeknya hanya pada pengurangan aktifitas hewan ternak.
“Kalau mata itu konjungtiviatis, atau mata merah. Ini merupakan peradangan pada mata yang biasanya hewan meneteskan air. Jika ini dibiarkan akan muncul kotoran mata atau belekan,” terangnya.
Selain penyakit itu, ada juga pink eye. Penyakit ini menyerang berbagai hewan seperti kambing, kerbau, kuda, dan domba. Namun di lapangan, penyakit ini lebih banyak menjangkit sapi, kambing dan domba.
Baca Juga: Menteri AHY Motivasi Taruna/i Akmil, Minta Siapkan Diri untuk Pengabdian kepada Rakyat dan Negara
“Ini penyakit menular, penyebabnya berbagai macam. Bisa karena debu, kuman, ataupun jamur. Hewan yang terkena ini biasnaya kejadinya cepat. Soalnya kejala awalnya itu seperti mata kelilipan debu, menyebabkan air mata keluar dan memerah. Lama-lama, belek agai bloboknya itu bercampur nanah fan menyebabkan mata memutih seperti orang terkena katarak,” imbuhnya.
Kendati tidak berakibat fatal, bagi hewan yang mengalami ini hanya mengalami kegelisahan karena daya penglihatan yang terhambat. Selain itu, ini juga sangat perih sehingga hewan kurang nyaman.
Selain dua penyakit tersebut, sekitar dua atau tiga minggu yang lalu. BEF atau Bovine Ephemeral Fever, juga menyerang beberapa ternak warga. Penyakit ini biasanya memiliki ciri berupa Demam Tiga Hari (Three Days Sickness).
“Kalau BEF itu disebabkan oleh serangga seperti lalat dan nyamulk. Mereka vektor yang menolarkan penyakit dari satu hean ke hewan lain. Biasnaya ini melonjak saat musim penghujan. Namun di musim pancaroba seperti ini juga ada,” terangnya.
Karena ini juga, BEF cukup sering terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia dan biasanya selaras dengan musim. Jika setahun dua kali, maka di Indonesia BEF sering muncul dua kali saat berganti cuaca.
Untuk mengatasi berbagai penyakit itu ada dua cara. Yakni, pertama lebih tanggap dengan kondisi lingkungan.
Pencegahan ini bisa dilakukan dengan menambah air minum. Selain itu, perlu peninggian atap atau perubahan atap yang tidak terlalu menyerap panas.
“Itu kan ongkos ya, untuk solusi simpel. Bisa diberikan kipas angin di dalam kandang dan perluasan sirkulasi udara dengan menyingkirkan barang yang tidak penting,” jelasnya.
Selain solusi dari luar, pemberian obat cacing dan multivitamin juga perlu di lakukan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan metabolisme hewan dan meningkatkan napsu makan. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila