BLITAR - Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) kian dilirik oleh Pemerintah Kota (pemkot) Blitar karena berpeluang mendongkrak pendapatan daerah.
Bahkan, pemkot mengusulkan anggaran senilai Rp 60 Miliar untuk pengembangan sejumlah sektor tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Edy Wasono mengungkapkan pemkot Blitar telah menyiapkan beberapa konsep pengembangan pariwisata dan ekraf Kota Blitar. Konsep-konsep tersebut telah dikaji dan hanya menunggu waktu untuk realisasinya.
“Iya, tahun ini kami punya reencana pengembangan destinasi sejarah atau cagar budaya di museum PETA. Selain mengembangkan sektor cagar budaya kami juga mengembangkan ekonomi kreatif,” ungkapnya, senin (30/9/2024).
Jadi, lanjut dia, di taman plaza ekrafnya akan di konsep tradisional semi modern. Di sisi barat di-branding kopi tubruk bersama dengan makanan tempo dulu yang disajikan secara modern, sementara sisi timur minuman-minuman kekinian.
“Kemudian pengembangan Museum PETA berupa pengembalian ruh atau fasad bangunan di museum PETA seperti semula. Pemerintah pusat bakal segera mengucurkan anggaran sekitar Rp 20 – 25 Milyar,” terangnya.
Menurut dia, pengembalian fasad Museum PETA ini merobohkan sebagian bangunan dan mempertahankan bangunan-bangunan yang lama.
Meskipun bangunan-bangunan lama itu perlu perbaikan akan tetapi bentuknya tidak boleh diubah untuk menjadi salah satu cagar budaya.
“Yang sudah pasti pengembangan ke depan itu ada Museum PETA, Istana Gebang, Balio Blitar, dan Kampung Wonomadyo. Sudah kita ajukan proposal ke Kementerian sebesar Rp 60 Miliar. Memang yang sudah mendapatkan respon baru Museum PETA. Semoga bisa segera turun dan terealisasi, ” tandasnya.
Balio Blitar, menutur Edy, berkonsep seperti kawasan Malioboro di Yogyakarta. Rencananya, dibangun pada akhir tahun ini atau tahun depan di sepanjang jalan Mastrip sampai Jalan Kenanga.
Jika memungkinkan pedestrian itu akan dibangun hingga jalan TGP dan dilanjutkan hingga jalan IR Soekarno.
Baca Juga: Tarif Retrebusi Parkir di Wilayah Pemkab Blitar Naik, Dishub: Masih Batas Normal, Sudah Sesuai Perda
“Kami berharap konsep ini tidak melenceng jauh, sebagai upaya agar Kota Blitar ini tidak dikenal sebagai Kota Pensiun melainkan sebagai Kota Jujukan. Jadi tak hanya punya Makam Bung Karno, Kota Blitar ini nanti memiliki Kawasan wisata seperti Malioboro yakni Balio Blitar,” tegasnya.
Rencana selanjutnya adalah pembangunan diorama Istana Gebang yakni rumah yang pernah ditempati Proklamator yang juga Presiden Pertama RI, Bung Karno.
Diorama Istana Gebang itu nantinya mengisahkan perjuangan melawan penjajah, hingga kemerdekaan sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Istana Gebang.
“Terakhir, konsep Kampung Wonomadyo yaitu pengembangan sumber mata air Mbah Bawuk yang ada di Kelurahan Karangtengah. Nanti, akan dilakukan revitalisasi agar sumber atau sendang Mbah Bawuk bisa menjadi destinasi wisata sekaligus melestarikan sumber mata air,” pungkasnya. (ham/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila