Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sulit Didapatkan, Nelayan Pantai Tambakrejo Blitar Butuh Cold Storage untuk Hasil Tangkapan Berkualitas

Mohammad Syafi'uddin • Kamis, 3 Oktober 2024 | 22:00 WIB
RAPI: Perahu nelayan berjejer di Pelabuhan Perikanan Tambakrejo. Kualitas tangkapan buruk karena es balok sulit didapatkan.
RAPI: Perahu nelayan berjejer di Pelabuhan Perikanan Tambakrejo. Kualitas tangkapan buruk karena es balok sulit didapatkan.

BLITAR - Tidak adanya cold storage dan produksi es batu di Blitar Selatan menjadi persoalan nelayan hingga kini.

Padahal, itu dibutuhkan untuk memastikan hasil tangkapan nelayan masih segar dan bernilai jual tinggi.

Jabatan Fungsional Tetap Bidang Perikanan Tangkap Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Ilmayuni Rowiyati, mengaku sering mendapat keluhan dari nelayan.

Maklum, di area Kecamatan Wonotirto dan pesisir selatan lain tidak ada produksi es batu untuk mempertahankan kualitas ikan hasil tangkapan.

“Nelayan selalu mencari es di Kademangan yang memiliki jarak sekitar 20 kilometer dari Pantai Tambakrejo,” katanya.

Dia mengungkapkan, saat berkunjung ke gudang pemilahan ikan di Tambakrejo, terdapat banyak hasil tangkapan ikan layur nelayan.

Menurutnya, ikan jenis ini sangat rentan dan mudah busuk sehingga membutuhkan perlakuan yang tepat.

“Ikan jenis ini masuk kategori ekspor. Tapi kondisinya sudah rusak. Bagian perut sudah pecah karena es yang dibawa saat melaut hanya sedikit,” jelasnya.

Seharusnya, kata Ilma, nelayan membawa perbekalan yang cukup saat melaut. Salah satunya es batu untuk mempertahankan kualitas hasil tangkapan.

“Kalau sudah begini (ikan rusak, Red), harganya sudah ngikut pasaran lokal dan tidak bisa dibawa ke pasar ekspor. Padahal ikan ini merupakan ikan permata (berharga tinggi) nelayan,” ungkapnya.

Ilma tidak berani memastikan harga ikan jenis tersebut lantaran kondisi pasar yang dinamis. Namun, dia memastikan bahwa ikan layur dengan kualitas yang baik bisa tembus di angka Rp 40 ribu per kilogram. Sebaliknya, jika ikan tersebut sudah rusak, harganya berkurang separo.

Dia tidak menampik fakta bahwa belum ada nelayan yang memiliki sarana layak untuk menyimpan hasil tangkapan.

Akibatnya, mereka harus segera menjual hasil tangkapan tersebut kepada pedagang meski kondisi pasar tidak menguntungkan.

Untuk menyelasaikan kendala ini, pemerintah daerah berupaya untuk mengajukan anggaran Pemprov Jatim maupun pusat.

“Membuat penampungan cold storage itu tidak murah, membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Jadi ini tidak bisa asal jadi. Yang bisa kami lakukan ialah usaha dan berdoa agar proposalnya disetujui,” terangnya. (mg2/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#nelayan #Kabupaten Blitar #Pantai Tambakrejo #cold storage #Disnakkan