Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Puluhan Bumil di Blitar Positif Terkena Hepatitis B, Begini Langkah Cegah Penularan Genetik Menurut Dinkes

Mohammad Syafi'uddin • Kamis, 3 Oktober 2024 | 21:00 WIB

Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil

BLITAR - Pemerintah terus memberantas hepatitis B. Sebab, dampak terburuknya dapat menghilangkan nyawa serta penularannya bisa diturunkan secara genetik. Yakni dari ibu hamil (bumil) yang merupakan seorang penderita merambat ke anak.

Subkoordinator Pencegahan Penularan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Blitar, Eko Wahyudi mengatakan, penularan hepatitis B ini bisa terjadi karena ada hubungan seksual atau tercampurnya darah akibat jarum suntik. Meski demikian, persentase penularan ini masih rendah.

“Dari data hingga Agustus tahun ini, ada 6.321 bumil yang diskrining. Dari data tersebut, terdapat 54 bumil positif terkena hepatitis,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan data tahun lalu, penderita hepatitis B ini jumlahnya tidak jauh beda. Dari Januari hingga Desember 2023, terdapat 70 penderita dari 10.678 bumil sudah diskrining.

Untuk mengurangi penambahan penularan ini, semua layanan kesehatan milik pemerintah sudah menyosialisasikan.

Selain tindakan tersebut, ada pencegahan yang sudah dilakukan. Termasuk pegecekan sedari dini bumil, anjuran hubungan seksual menggunakan pengaman jika pasangan terdeteksi hepatitis B, vaksinasi, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Biasanya, kata dia, penderita hepatitis B ini memiliki beberapa gejala. Misal, sakit perut, mata menguning, demam, dan urine keruh.

Namun, itu bisa belum pasti karena gejala tersebut mirip dengan penyakit lainnya. Untuk mengetahui secara detail, biasanya penderita melakukan pemeriksaan rapid test.

“Pemeriksaan sedari dini ini sudah dilakukan dan gratis. Jika ditemukan ada bumil terdeteksi hepatitis B akan segera diobati agar bayinya tidak tertular. Nanti setelah lahir juga dicek, apakah bayi ini tertular apa enggak. Itu merupakan upaya pencegahan yang sudah diprogramkan pemerintah,” jelasnya.

Walau semua layanan kesehatan sudah berusaha keras untuk menyisir, nyatanya ada beberapa kendala dihadapi.

Yaitu, kesadaran masyarakat yang masih enggan segera periksa. Biasanya tindakan ini selalu dibarengi dengan alasan-alasan tertentu.

Dengan kondisi tersebut, bidan yang ada di lapangan bisa mengisi peran ini agar bumil segera diperiksa sehingga ketika ada penularan dapat terdeteksi.

“Harapannya, semua bumil bisa tertangani 100 persen. Tetapi ada juga yang periksa ke luar wilayah Blitar. Biasanya ini terjadi bagi warga yang tinggal di perbatasan, maka agak sulit terdeteksi,” terangnya. (mg2/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#ibu hamil #dinkes kabupaten blitar #Hepatitis B