Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Lin Faristin, Wanita asal Sukorejo yang Sukses Bikin Produk Minuman Kesehatan dari Tanaman Herbal Mint

Mohammad Syafi'uddin • Rabu, 9 Oktober 2024 | 20:30 WIB

 

Caption: NILAI EKONOMI: Lin Faristin dengan berbagai produk berbahan peppermint.
Caption: NILAI EKONOMI: Lin Faristin dengan berbagai produk berbahan peppermint.

BLITAR - Tanaman peppermint biasanya tumbuh subur di lingkungan warga sebagai tanaman penghias. Namun ternyata, tanaman ini bisa untuk obat herbal yang bermanfaat bagi tubuh dan bernilai ekonomi tinggi.

Di saat sibuk sebagai pengajar, waktu luang sangat dimanfaatkan Lin Faristin, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, untuk menciptakan berbagai minuman dari tumbuhan mint.

Tidak hanya satu jenis. Ada beberapa jenis minuman yang dibuatnya, termasuk teh mint, lemon tea mint, serbuk mint, dan serut mint.

Merasa bosan dengan produk itu-itu saja, tak sengaja ide kreatif keluar dari ucapan salah satu dari kelima anaknya.
Tak ingin tinggal diam, seusai ide tersebut tercurahkan dari buah hatinya, berbagai percobaan telah dilakukannya untuk menemukan resep jitu agar laris di pasaran.

“Saat itu, anak saya yang pertama mengatakan bahwa lagi tren di kalangan masyarakat ialah minuman infused water. Kenapa enggak membuat rendaman dari berbagai buah dengan bahan dasar pakai mint,” kenang perempuan yang kini genap 50 tahun tersebut.

Langkahnya terbukti sukses. Tak lama setelah usaha itu terdapat pameran produk UMKM di Agro Belimbing. Dari pameran itu, antusiasme masyarakat tergolong tinggi karena banyak yang penasaran dan ingin tahu rasanya produk baru ini.

Tentu dalam proyek pembutan minuman baru tidak mudah. Kebingungan sempat menyelimuti benak Faristin. Berbagai jenis buah dimasukkan ke dalam botol dan dikasih mint serta air lantas direndam dalam kulkas. Setelah waktu dirasa cukup, minuman baru ini disajikan ke publik.

“Awalnya begitu, namun saat pameran tersebut saya ketemu Bapak Santoso yang saat itu masih menjabat sebagai Plt Wali Kota Blitar. Beliau menyarankan untuk mengurangi isian buah, dengan alasan memperburuk penampilan infused water dan menyebabkan volume air sedikit,” terangnya.

Dari kritikan tersebut, dia mulai melakukan eksperimen baru agar bisa menghasilkan infused water yang pas segar dari rasa dan volumenya.

Merasa berhasil di proyek kedua ini, Faristin mencoba membuat produk baru dengan berbagai varian rasa namun tetap menonjolkan peppermint.

Harganya juga terjangkau. Terkecil ukuran 250 mililiter (ml) dibanderol Rp 6 ribu, sedangkan 350 ml dibanderol Rp 10 ribu, dan terbesar 1.500 ml dengan harga Rp 30 ribu.

Merasa imajinasi terus muncul, tangan kreatifnya terus berinovasi untuk melahirkan berbagai produk. Dari sini, lahirlah produk baru seperti cokelat mint, jelly mint, dan berbagai minuman lainnya yang berasal dari mint.

Merasa bangga dengan produk olahanya, Faristin kini sudah memiliki legalitas hukum minuman buatannya. Yakni, sertifikat halal, NIB, dan merek pendaftaran.

“Masih mengurus BPOM, soalnya untuk minuman yang tidak bisa bertahan selama 7 hari itu tidak bisa mendapatkan P-IRT,” jelasnya.

Tidak berhenti di produk minuman. Usahanya mulai merambat ke berbagai lini, termasuk kebutuhan mandi. Misal, sabut batangan, sabun cair, dan sampo yang semua terbuat dari peppermint.

“Belum kami kembangkan lebih jauh. Sebab butuh beberapa peralatan mahal. Jadi, kami garap perlahan-lahan,” jelasnya. (*/c1/din)

Editor : Anggi Septian A.P.
#minuman #herbal #mint