BLITAR - Terdapat beragam versi sejarah dan cerita mengenai legenda Gunung Kelud, namun semua berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan.
Salah satu versi cerita yang berkembang di masyarakat yaitu ada seorang gadis cantik bernama Dewi Kilisuci, anak perempuan Jenggolo Manik.
Dewi Kilisuci berkedudukan sebagai putri mahkota dari Kerajaan Jenggala, kala itu. Ia dilamar oleh dua orang raja.
Namun, raja tersebut bukan berwujud manusia seutuhnya, satu pelamar berkepala lembu yang bernama Raja Lembu Suro dan satu lagi yang berkepala kerbau, bernama Raja Mahesa Suro.
Terlepas dari cerita legenda yang beredar di masyarakat, Gunung Kelud sempat menjadi sengketa atas status kepemilikan yang telah terjadi sejak lama antara pihak pemerintah Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar. Kedua belah pihak sama-sama mengklaim atas kepemilikan Gunung Kelud.
Pada tahun 2012, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang menyatakan bahwa kepemilikan administrasi Gunung Kelud berada di wilayah Pemerintah Kabupaten Kediri.
Atas keluarnya SK tersebut, Pemerintah Kabupaten Blitar menggugat Gubernur Jatim ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Gugatan Pemkab Blitar ditolak PTUN pada akhir tahun 2012.
Pasca letusan besar Gunung Kelud pada awal tahun 2014, status Gunung Kelud kembali menjadi sengketa antara kedua belah pihak. Soekarwo akhirnya mencabut SK Kepemilikan Gunung Kelud pada awal tahun 2015 dan menyerahkan persoalan ini kepada Kementerian Dalam Negeri.
Namun, pihak Pemkab Kediri melakukan gugatan atas pencabutan SK oleh Gubernur Soekarwo tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya (PTUN) Surabaya. Gugatan yang dilakukan Pemkab Kediri tersebut dikabulkan oleh majelis hakim.
Pada akhirnya, status kepemilikan Gunung Kelud kembali sah menjadi milik Pemerintah Kabupaten Kediri.
Mengenai keputusan yang telah keluar, mau tidak mau kedua belah pihak harus menerima. Selama setiap tahapan dalam proses penegasan perbatasan telah disepakati oleh kedua belah pihak.(aul)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila