BLITAR - Siapa yang tidak mengenal guru SMKN 12 Surabaya, Abing Santoso, yang video menarinya bersama para anak didiknya pernah viral beberapa waktu lalu. Nah, pria ini ternyata berasal dari Desa Bendo, Kecamatan Ponggok.
Dia memiliki cara mengajar yang kreatif dan menyenangkan untuk menggaet minat generasi muda melestarikan budaya.
Suasana Perpustakaan Proklamator Bung Karno siang itu begitu riuh dengan para anak muda yang sedang berlatih tari. Dari kejauhan, tampak sosok pria yang dengan tekun memberikan arahan dan semangat. Iya, dia adalah salah satu penari kebanggaan Blitar, Abing Santoso.
“Seni berkembang tidak stagnan pada satu masa, karena tiap masa berbeda-beda. Kalau berhenti pada satu era tidak akan ada perkembangan. Padahal, seni budaya tidak hanya dilestarikan, namun juga perlu dikembangkan,” ungkapnya mengawali pembicaraan.
Menurut dia, era sekarang sudah bukan zamannya era feodal dan primitif yang terlalu kaku pada aturan yang membatasi para pelaku seni. Namun, masih banyak orang tua yang kolot dan kerap kali memberi batasan pada generasi saat ini.
“Katakanlah menari tradisional harus seperti ini seperti itu, di era sekarang, mereka tidak mau. Mereka maunya mempelajari tari dalam versinya sendiri, hingga sukses dengan versinya tanpa meninggalkan materi sejarah yang ada. Itu yang dinamakan seni yang berkemanusian dan berkelanjutan,” bebernya.
Sebab, lanjut dia, generasi saat ini kalau dibatasi malah mundur karena menganggap belajar seni tradisional banyak kekangan dan rumit. Biarkan mereka menari apa pun dan mengenal dulu. Seiring waktu, mereka pasti mencari tahu dan menggali potensi dan mencintai dunia seni.
“Karena selama ini saya lebih banyak di Surabaya, rencananya membuat Komunitas Rumah Budaya di rumah saya, di Bendo. Saat ini tengah proses pembangunan, insya Allah pada Januari nanti rilis. Nah, rencananya untuk memfasilitasi semua budayawan,” tandasnya.
Bahkan, budaya yang dia maksudkan tidak terbatas dari genre. Mulai dari seni tari, karawitan, wayang, hiphop, K-pop, atau ap apun bisa masuk rumah budaya. Sebab, era sekarang sudah era kolaborasi, bukan lagi era mengkotak-kotak kebudayaan.
“Kita usahakan melahirkan bibit-bibit seni melalui ruang budaya itu. Zaman sekarang, kita ikuti caranya generasi Z. Di tahun 2020, saya mulai melihat anak-anak lebih senang berinteraksi di media sosial. Maka dari itu, saya sering mengajak anak-anak membuat video tari dan diunggah di media sosial,” tandasnya.
Meskipun begitu, sebelum sampai pada titik ini, dia mengaku keputusannya menekuni dunia tari sempat tak mendapat restu dari orang tuanya.
Bahkan, untuk berangkat ke Surabaya, dia harus menggandol kereta karena tidak memiliki uang sama sekali.
“Iya, awalnya saya sudah diterima di SMKN 1 Blitar jurusan listrik, bahkan mendapat peringkat ketujuh dari ratusan pendaftar. Tapi, saya ingin tantangan baru dan ingin sukses di kota besar. Bahkan awal-awal sekolah itu terpaksa menumpang di masjid dan kelurahan sebelum akhirnya tinggal di asrama sekolah,” kenangnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila