BLITAR- Gunung Pegat, sebuah nama yang tak asing bagi masyarakat di Blitar, menyimpan pesona alam yang memikat sekaligus misteri dan legenda yang telah dipercaya turun-temurun.
Terletak di Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, gunung ini dikenal dengan mitos unik yang menyelimutinya. Konon, pasangan yang baru menikah dilarang keras melintasi dua bagian gunung ini. Jika nekat melanggar, hubungan mereka diyakini akan berakhir.
Baca Juga: Pesona Keindahan Alam di Gunung Kelud, Tempat Instagramable Untuk Pengunjung
Legenda Gunung Pegat
Gunung Pegat memiliki legenda yang telah lama diyakini oleh masyarakat setempat, tentang asal-usul namanya yang berarti "berpisah."
Menurut cerita yang dituturkan oleh juru pemelihara sejarah sekitar gunung, dahulu kala ada tiga tokoh pewayangan terkenal—Semar, Petruk, dan Gareng—yang ditugaskan untuk memikul batu di gunung tersebut. Mereka mendapat perintah untuk menyelesaikan tugas itu sebelum fajar tiba.
Baca Juga: Berikut Tiga Gunung Menawan yang Ada di Blitar, Cocok Buat Spot Mendaki dan Berpetualang
Namun, ketika sedang menjalankan tugas, pikulan batu yang mereka bawa patah seiring dengan kokokan ayam di pagi hari.
Tiba-tiba, gunung yang mereka lewati terbelah menjadi dua bagian, memisahkan ketiganya.
Mereka kemudian bersumpah bahwa jika ada pasangan pengantin baru yang melintasi jalan di antara belahan gunung ini, maka kehidupan rumah tangganya tidak akan berlangsung lama alias akan berpisah (pegatan).
Baca Juga: Pengalaman Safa Nur Sabila, Gadis Blitar Gemar Kegiatan Menantang, Dari Mendaki Gunung Sampai Karate
Cerita ini telah terbukti mewarnai kepercayaan masyarakat setempat. Tak hanya dihindari oleh pengantin baru, Gunung Pegat juga menjadi semacam "kode" bagi pasangan yang ingin mengakhiri hubungan. Bahkan, ada ungkapan, "Jika ingin putus, bawalah ke Gunung Pegat."
Meskipun mitos tentang Gunung Pegat tidak bisa dipastikan kebenarannya, legenda ini memberikan warna dan makna tersendiri bagi tempat tersebut.
Bagi para wisatawan, Gunung Pegat menawarkan pemandangan alam yang indah dan sekaligus menjadi tempat untuk merenungkan kisah-kisah yang melekat padanya.(alf)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila