BLITAR - Sanggar kesenian tari di daerah Blitar masih digandrungi anak-anak dari berbagai jenjang usia dari TK hingga SMA.
Termasuk sanggar tari Kembang Sore yang sudah berusia puluhan tahun, yang dari segelintir siswa dan kini sudah ratusan serta menyebar.
Sanggar tari Kembang Sore di Blitar ini merupakan salah satu cabang sanggar tari dengan pusat di Jogjakarta.
Tak hanya di Blitar, sanggar tari Kembang Sore juga memiliki cabang di kota lain, termasuk Tulungagung, Kediri, dan Surabaya.
“Sanggar tari Kembang Sore berdiri tahun 1989, sedangkan cabang di Blitar ini sudah berdiri dari tahun 2011 silam,” terang Ketua Sanggar Tari Kembang Sore cabang Blitar, Ambarwati, kemarin.
Mulanya, sanggar tari Kembang Sore pertama kali dibuat Untung Mulyono bersama tiga orang temannya yang pada saat itu berlokasi di Tulungagung.
Nama Kembang Sore diambil dari nama petilasan di Gunung Bolo, Tulungagung, bernama Mbok Roro Kembang Sore.
“Setelah itu, Pak Untung Mulyono pindah ke Jogjakarta jadi dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta,” ujarnya.
Kepindahan Untung Mulyono ini membuat Jogjakarta menjadi pusat sanggar tari Kembang Sore sampai sekarang. “Mungkin kalau tidak pindah, pusatnya sekarang di Tulungagung,” katanya.
Awal mula sanggar tari Kembang Sore masuk di Blitar karena pada saat itu Ambarwati sedang mengantarkan anaknya latihan menari di Tulungagung. Tak sengaja, dia ditawari untuk membuka cabang di daerah Blitar. Karena pada saat itu, Blitar belum memiliki sanggar tari Kembang Sore.
Pertama kali berdiri, sanggar tari ini hanya memiliki empat siswa. Selama 2 tahun, sanggar tersebut masih mendatangkan pelatih dari Tulungagung. “Dulu karena belum ada pelatih, jadi masih mendatangkan dari Tulungagung,” ujar perempuan 56 tahun itu.
Saat ini, jerih payahnya akhirnya berbuah manis. Kini sudah sekitar 300 murid dari berbagai jenjang usia tersebar di Blitar. Terbanyak di Ponggok ada 100 lebih siswa.
Untuk pelatih, kata dia, harus memiliki lisensi yang didapat dari sanggar pusat dengan setidaknya pernah mengikuti latihan di sana selama 2-3 pertemuan.
“Kalau pelatih di sanggar ini ada 10 lebih dan harus memiliki sertifikat dulu, karena itu sudah menjadi peraturan dari pusatnya,” tandasnya.
Di Blitar, sanggar tari Kembang Sore sudah menyebar di berbagai kecamatan. Lokasi pusat sanggar ini berada di Desa/Kecamatan Ponggok, Blitar.
Lokasi lain sanggar tari ini berada di Udanawu di Balai Desa Mangunan; di Ponggok berlokasi di rumah Ambarwati dan di Balai desa Ponggok; di Wonodadi berlokasi di Balai Desa Pikatan; di Kota Blitar berlokasi di aula Pusat Informasi Perdagangan dan Pariwisata (PIPP).
Masing-masing tempat memiliki jadwal latihan satu minggu sekali. Di Udanawu setiap Sabtu; Wonodadi setiap Jumat; Ponggok setiap Jumat; di Kota Blitar setiap Kamis. “Kalau yang di Wonodadi, karena harinya bersamaan, jadi yang melatih di sana kakak yang sudah senior,” ungkapnya.
Sanggar tari ini dibagi menjadi tiga jenjang usia dari TK/SD, SMP, dan SMA. Setiap jenjang usia memiliki karakter tari yang berbeda. Hal ini karena disesuaikan dengan usia penari.
Jenjang TK/SD merupakan tari yang mudah seperti Tari Bintang. Jenjang SMP adalah tari remaja, sedangkan jenjang SMA adalah tari dewasa yang menekankan pada gerakan tubuh.
“Jadi kalau di Kembang Sore tidak boleh memberikan gerakan bukan usianya, misal SD dikasih gerakan geal-geol itu kalau di sini tidak boleh,” katanya.
Kini, sanggar tari Kembang Sore rutin adakan uji kompetensi setiap tahun dan sering tampil di event-event sekolahan.
Selain itu, sanggar tersebut baru-baru ini ikut berpartisipasi dalam event Gong Kyai Prada, festival di gedung kesenian Cak Durasim Surabaya pada 5 Oktober 2024 lalu, dan menyabet beberapa ketegori yakni penyaji terbaik dan juara favorit.
“Saya akui tarian Kembang Sore itu tidak terlalu menggunakan power,” pungkasnya. (*/c1/din)