Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Miris! 138 Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Blitar, Rata-rata Pasien Meninggal karena Tidak Teratur Berobat

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 30 Oktober 2024 | 20:30 WIB

 

Ilustrasi HIV / AIDS. Kasus ini marak sejak 2009.
Ilustrasi HIV / AIDS. Kasus ini marak sejak 2009.

BLITAR – Sepanjang Januari hingga Oktober ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat ada 138 kasus HIV/AIDS.

Dari jumlah itu, ada 17 orang berakhir dengan kehilangan nyawa di layanan kesehatan. Tentu hal ini menjadi perhatian dari semua pihak agar masyarakat lebih sadar dalam menangani penyakit tersebut.

Subko Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Blitar, Eko Wahyudi mengatakan, penemuan kasus terbesar terjadi di RSUD Ngudi Waluyo.

Tercatat ada sekitar 12 kasus yang masuk. Banyak pasien masuk rawat inap dan kondisinya sudah memburuk. Apalagi, mereka juga terserang tuberkulosis (TB) sehingga memperparah kondisinya.

“Pasien HIV/AIDS yang terserang TB tentu kondisinya memburuk sehingga risiko kematiannya tinggi. Bahkan, sebagian dari pasien ini juga ada yang mengidap toksoplasmosis penyakit infeksi parasit hingga stadium 4,” ujar Eko.

Dia melanjutkan, rata-rata belasan pasien HIV/AIDS yang meninggal dunia ini berakhir dirawat di intensive care unit (ICU).

Karena, mereka mengalami berkurangnya tingkat kesadaran sehingga butuh perawatan lebih.

Bahkan, ada satu pasien yang sudah mengidap penyakit kelamin ini cukup lama. Dia tidak meminum obat dalam beberapa tahun dan kembali mengonsumsi obat ketika kondisi tubuhnya sudah memburuk.

Tentu tenaga medis tidak henti mengingatkan pasien untuk meminum obat agar bisa bertahan hidup.

“Pasien ini merupakan penemuan kasus baru. Sebenarnya, dia sadar ingin diobati dan kami berupaya melakukan pelayanan yang terbaik. Tentu hasilnya akan bisa sembuh. Namun, pasien juga manusia yang kadang punya sifat malas,” ungkapnya.

Menurut dia, rata-rata pasien HIV/AIDS ini yang meninggal dunia cukup sulit untuk teratur minum obat.

Padahal, obat adalah kunci untuk mereka dapat bertahan hidup dari penyakit ini. Selain itu, obat wajib dikonsumsi selama hidup mereka.

Mirisnya, dari belasan pasien itu, sebagian besar masih berumur 20 tahun hingga 30 tahun. Hanya satu atau dua orang yang berumur senja.

Bahkan, beberapa keluarga dari pasien ada yang minta pulang paksa hingga akhirnya pasien meninggal dunia.

“Kondisi ini memang parah jika dibandingkan tahun lalu. Karena jumlah kasus dan angka kematiannya lebih banyak pada tahun ini,” tuturnya.

Untuk diketahui, Dinkes Kabupaten Blitar mencatat bahwa mulai Januari hingga Oktober ini ada 138 penderita baru HIV.

Mayoritas penderita merupakan laki-laki dengan jumlah 93 orang, sementara perempuan tercatat 45 orang.

Populasi peringkat pertama ditempati populasi umum sebesar 38 persen. Selanjutnya, peringkat kedua, lelaki suka lelaki (LSL) dengan 16 persen, dan peringkat ketiga kasus terbanyak yakni pekerja seks dengan 14 persen.

“Ada beberapa populasi lain seperti pasangan ODHIV, penularan dari ibu hamil ke anaknya, wanita pekerja seks, dan lainnya. Kami meminta masyarakat lebih berhati-hati dan berupaya melakukan pencegahan untuk kasus HIV,” pungkasnya. (jar/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#kasus hiv/aids #dinkes #Kabupaten Blitar #kehilangan nyawa