Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Patah Hati Menuju Karya: Perjalanan Inspiratif Andhik Prasetyo di Dunia Sastra

Muhamad Ilham Baha’udin • Kamis, 31 Oktober 2024 | 21:30 WIB
NYENTRIK: Mas Jon ketika menampilkan puisi pada kegiatan Ruang Peduli Perempuan dan Anak beberapa waktu lalu.
NYENTRIK: Mas Jon ketika menampilkan puisi pada kegiatan Ruang Peduli Perempuan dan Anak beberapa waktu lalu.

BLITAR - Pepatah “Jangan menyakiti hati seorang penulis, atau kau akan abadi dalam karyanya” tampaknya cocok untuk menggambarkan salah satu pujangga asal Blitar, Andhik Prasetyo.

Warga Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, ini kini eksis di dunia sastra skala nasional hingga internasional.

Suasana salah satu warung kopi yang terletak di pinggiran Kota Patria sore itu agak sepi.

Hanya segelintir warga yang mampir berkunjung. Sesosok pria berambut gondrong menyapa sembari menenggak kopinya.

Dia adalah Andhik Prasetyo atau akrab dengan nama panggung Mas Jon.

“Kalau awal saya jatuh cinta dengan sastra, khususnya puisi, tatkala saya sedang patah hati. Saya lampiaskan rasa kekecewaan saya melalui bait-bait puisi. Memang, sebelumnya sudah akrab dengan puisi, karena pada zaman-zaman itu kan bisanya berkabar lewat surat. Setiap surat selalu saya berikan puisi sebagai pembuka. Tapi, saya betul-betul menekuni dunia sastra sejak 2013,” ungkapnya, mengawali perbincangan.

Dia menuturkan bahwa latar belakang akademiknya sangat jauh berbeda dengan dunia sastra. Namun, karena panggilan hati, dia mulai belajar untuk menekuni sastra.

Dia tak menampik ada banyak perjuangan dan pengorbanan untuk menekuni dunia sastra, terlebih tidak ada guru khusus yang mengajar sastra.

“Saya STM jurusan listrik, jadi dunianya sangat jauh berbeda dengan sastra. Namun dengan memanfaatkan media sosial, saat itu grup Facebook, saya bersama pujangga dari Tanjung Pinang, Yuanda Isa, mendirikan Komunitas Sastra Nusantara pada 2013 itu sebagai tempat berkarya sastra,” kenangnya.

Setelah menekuni sastra, sudah tak terhitung lagi event maupun perlombaan yang telah Mas Jon ikuti.

Tapi, salah satu event yang paling berkesan baginya adalah Festival Sastra Internasional Gunung Bintan pada 2020 dan 2021.

“Kenapa kok paling berkesan, sebab puisi saya lolos seleksi dan terbit bersama penyair-penyair besar seperti Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Tentu itu menjadi salah satu hal yang berkesan. Karya saya bisa satu buku bersama beliau,” bebernya.

Meskipun begitu, dia mengaku kecintaannya pada dunia sastra sempat tak direstui sang ibu. Sebab, bagi ibunya, menjadi seorang penyair memiliki risiko yang sangat besar.

Apalagi, dalam sejarah, para penyair ini kerap masuk bui karena mengutarakan kebenaran lewat goresan penanya.

“Tapi ini pilihan saya, mengutip kata John F. Kennedy Kalau politik kotor, maka puisi yang membersihkan. Jika politik bengkok, sastra yang meluruskan. Kalau bicara karya itu bicara soal keabadian, tulisan itu abadi, hanya manusianya yang tidak abadi,” tandasnya.

Pada 2022, dia bersama rekannya, Galang Suhastra, menggagas berdirinya Suara Sastra yang mewadahi para pujangga di Blitar Raya.

Selain itu, sejak 2020, dia menjadi pemateri untuk kelas daring menulis puisi yang digagas oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjung Pinang.

“Iya, melalui Suara Sastra, kita targetkan bisa menerbitkan satu antologi tiap tahun. Untuk pelatihan kelas online itu memang berlanjut ya, dari tahun ke tahun, insya Allah dalam waktu dekat ini memasuki angkatan keenam,” pungkasnya. (ham/c1/ady)

Editor : Anggi Septian A.P.
#penyair #komunitas sastra #blitar #sastra