BLITAR - Tampak berbagai jenis tanaman herbal tumbuh lebat dan suasana yang sejuk di bawah pepohonan rindang, menjadikan Taman Apotek Herbal Kampung Turi Putih ini sebagai rumah bagi ratusan tanaman herbal, hingga pernah sabet juara di tingkat nasional.
Memiliki tanaman obat keluarga (toga) merupakan keuntungan dan daya tarik yang tak ternilai harganya.
Karena, selain bisa dimanfaatkan jenis tanamannya untuk obat-obat kesehatan, juga bisa digunakan sebagai bahan olahan pangan yang tentunya menyehatkan serta bernilai ekonomis.
Termasuk Taman Apotek Herbal Turi Putih yang ada di Desa Kebonagung, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, ini yang sudah berdiri sejak tahun 2013 silam.
Pemilik dari Herbs Medical Garden atau Taman Apotek Herbal Turi Putih, Nur Tajiaturrahmah menceritakan, awal membangun rumah tanaman herbal ini kerena melihat potensi yang ada di desanya sangat melimpah ruah.
Dari melimpahnya tanaman herbal tersebut, lantas dia mendapatkan ide untuk mengolahnya. Yang semula hanya berupa minuman herbal, kini menjadi berbagai produk olahan pangan lain.
“Nenek moyang kita sudah mempercayakan tanaman herbal kepada kita sebagai obat ampuh,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, saat ini sudah terdapat 200 jenis tanaman herbal yang ada di tempatnya. Mulai dari tanaman mudah dicari hingga langka.
Tanaman yang mudah dicari adalah tanaman empon-empon seperti kunyit hitam, kunir, temulawak, dan lain sebagainya. Ada juga jenis lain seperti pegagan, kecombrang, gempur batu, black sapote, kunci pepet, bunga telang, dan masih banyak lagi.
Sementara tanaman yang dianggap langka seperti cempaka putih dan kayu manis, karena sulit didapatkan di area Blitar.
“Itu saya dapat dari Lampung. Jadi biasanya kalau habis kunjungan ke mana saja, saya selalu pulang bawa tanaman dan membudidayakan sendiri,” terang perempuan itu.
Dia mengaku tak kesulitan dalam membudidayakan tanaman herbalnya. Karena bekal dari belajar ke sesama pencinta tanaman dan ahli tanaman lain, maka dia dengan mudah mengembangkan berbagai jenis tanaman.
“Jadi yang pembibitannya dari masyarakat yang tergabung, setelah itu baru pembudidayaannya di sini,” katanya.
Saat ini sudah ratusan tanaman dibudidayakan dan diambil manfaatnya menjadi sebuah produk olahan pangan, baik makanan maupun minuman. Bahkan, dia juga sudah memiliki 60 lebih jenis olahan pangan yang terdiri dari makanan kuliner, camilan, ramuan herbal, permen, dan es krim.
Seperti jenis olahan camilan mulai dari kemangi krispi, kenikir krispi, seledri krispi, pegagan krispi. Ada juga permen gummy pegagan, wedang pegagan, es daun pegagan. “Jadi dari satu tanaman bisa jadi berbagai produk,” tandas Nur, sapaan akrabnya.
Dari kerja kerasnya bersama kelompok tani hutan Turi Putih, kini Kampung Toga mendapatkan segudang prestasi baik dari provinsi ataupun nasional.
Di antaranya, juara 1 Pemanfaatan Toga dan Akupresure di Jakarta 2017; juara harapan 2 UKM Berprestasi kategori Ecogreen tingkat provinsi tahun 2022; juara 1 Wanalestari kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) tahun 2023. “Bahkan waktu itu saya mendapat undangan 17 Agustus di Istana Negara,” ungkapnya.
Dari segudang prestasinya itu, surga tanaman herbal ini ramai dikunjungi tak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari Kalimantan, Sumatra, Bali, dan daerah-daerah lain untuk mendapatkan edukasi.
“Bahkan pernah dikunjungi wisatawan dari Cina yang berkerja sama dengan PT Eagle Endo Pharma untuk melihat inovasi di sini,” jelasnya.
Dia menambahkan, ada tiga paket pembelajaran yang tersedia di Taman Turi Putih ini. Pertama, Paket Temulawak dengan edukasi sederhana meliputi bikin minuman dan ramuan.
Kedua, Paket Kunyit dengan edukasi membuat olahan inovasi, dan ketiga Paket Jahe Merah adalah paket lengkapnya. “Jadi tersedia pembelajaran, mulai dari tinggat TK hingga universitas,” bebernya.
Namun, kesuksesannya tersebut tidak lepas dari jatuh bangun yang dihadapi saat pertama kali mendirikan Kampung Toga.
Dia menjelaskan bahwa awal mula mendapatkan cibiran dari masyarakat karena terlalu kuno. “Ya karena masyarakat sekarang maunya serbainstan, tidak mau diajak berproses,” ungkapnya.
Namun, dengan bimbingan literasi yang baik serta pendekatan mendalam, dia mampu mengubah mindset masyarakat untuk bisa memanfaatkan tanaman ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. “Tidak hanya kesehatan, tapi juga manfaat ekonomi,” bebernya.
Dari yang awalnya mendapat tiga orang, akhirnya dengan ketekunannya sekarang sudah 30 orang yang mau bergabung.
Dia berharap Taman Apotek Kampung Toga Turi Putih tak hanya menawarkan literasi edukasi ke masyarakat luas tentang manfaat tanaman herbal, tetapi juga mampu mengangkat perekonomian masyarakat sendiri.
“Tak hanya menjadi kesejahteraan dari segi kesehatan, namun kesejahteraan ekonomi juga terjamin,” pungkasnya. (mg3/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila