BLITAR – Puluhan rumah porak-poranda akibat angin puting beliung yang terjadi di 10 desa di Bumi Penataran, Sabtu (2/11) sore.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) langsung turun melakukan asesmen hingga pukul 23.00 WIB.
“Usai dilakukan asesmen, hasilnya ada 34 rumah rusak di Kecamatan Wlingi, Wonodadi, Ponggok, Srengat, dan Gandusari. Mulai dari atap rumah, dapur, hingga kandang ternak yang ambruk tertimpa pohon tumbang. Usai hujan disertai angin kencang terjadi pada pukul 15.00 WIB,” ujar Ivong.
Seorang warga Desa Dermojayan, Kecamatan Srengat, meninggal dunia akibat tertimpa pohon wadang.
Dia sedang bekerja di peternakan dan memberi makan ayam saat cuaca yang kurang bersahabat tersebut. Tiba-tiba pohon di belakang kendang ambruk dan menimpanya.
Kondisi yang hampir sama juga dirasakan oleh Lami, 80, warga Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok.
Rumah yang ditempatinya ambruk dan saat itu dia berada di teras. Akibatnya, dia mengalami luka-luka dan dibawa ke rumah sakit. Saat ini, dia menjalani rawat jalan dan berada di rumah anaknya.
Cuaca buruk tersebut juga membuat beberapa akses jalan utama sempat lumpuh karena pohon tumbang.
Seperti jalur Desa Tegalasri-Ngadirenggo, jalan nasional Wlingi-Kesamben, dan jalur Desa Pikatan menuju Desa Tawangrejo di Kecamatan Wonodadi.
“Kerusakan juga berdampak pada infrastruktur listrik di Desa Pikatan dan Desa Kolomayan yang menyebabkan pemadaman karena 14 tiang listrik milik PLN roboh. Cuaca buruk ini sesuai prediksi BMKG,” ungkapnya.
BPBD Kabupaten Blitar juga memberikan paket sembako, terpal, dan family kit kepada para warga yang terdampak cuaca buruk ini.
Ivong berharap bantuan itu dapat sedikit membantu meringankan beban warga karena fenomena alam tersebut.
Ivong menyebut kondisi cuaca ekstrem ini sudah diprediksi oleh BMKG. Beberapa waktu lalu, BMKG juga sudah merilis bahwa pada periode 31 Oktober-6 November 2024 ada pertemuan massa udara dan gangguan gelombang atmosfer Rossby. Hal itu mendukung terbentuknya daerah pumpunan awan hujan di wilayah Jawa Timur.
“Usai melakukan asesmen, kami bersama stakeholder dan warga setempat bergotong royong untuk melakukan pembersihan material dan membenahi rumah warga yang mengalami kerusakan,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila