BLITAR - Banyak penari berbakat asal Bumi Bung Karno, tetapi tidak banyak yang memiliki mimpi besar. Salah satunya Muchamad Khalid Rahmad Putra.
Pemuda asli Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, ini memiliki mimpi tampil di luar negeri sekaligus memperkenalkan tarian khas Blitar ke dunia.
Mimpi besar selalu tersemat di benak Muchamad Khalid RP. Yakni, bisa menari di luar negeri. Salah satu penari dari Sanggar Patrialoka ini ingin tarian khas tersebut dikenal oleh masyarakat internasional.
Putra, sapaan akrabnya, telah menekuni kesenian Jawa sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Khususnya menekuni seni jaranan, kesenian tari tradisional yang memerlukan keberanian dan stamina.
Meski sempat ditentang oleh orang tuanya, dia tetap teguh menjalani pilihannya hingga kini. Karena baginya, kesenian Jawa ini sudah menyatu di jiwanya.
“Memang dulu orang tua melarang, karena saya sering pulang malam setelah latihan jaranan sehingga bangun siang untuk sekolah. Saya baru didukung untuk ikut jaranan ketika kelas VI SD, dengan syarat kegiatan tersebut positif dan tidak mengganggu sekolah,” tutur Putra.
Dia menceritakan, setelah direstui orang tua kemudian bergabung dengan Sanggar Patrialoka untuk semakin mengasah bakat menarinya.
Di sanggar tersebut, dia memperdalam seni tari tradisional hingga mulai dipercaya dan diundang tampil di berbagai tempat dan acara bergengsi.
Bahkan, perjalanan Putra sebagai penari tradisional telah membawanya meraih sejumlah penghargaan. Pada Festival Jaranan Terbuka Trenggalek tahun 2017, dia terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penyaji terbaik.
Kemudian pada 2019, dia juga berhasil meraih penghargaan sebagai penata tari terbaik. Bagi Khalid, penghargaan ini bukan hanya pencapaian, melainkan juga bukti bahwa kegigihannya selama ini tidak sia-sia.
“Tidak hanya itu, saya juga sering tampil di Jakarta, Bali, dan Situbondo. Bahkan hampir setiap tahun bisa tampil di TMII Jakarta. Maka dari itu, saya juga mulai menguasai tarian lain seperti tari Remong dan wayang orang,” ungkapnya.
Selain penari, Putra ternyata bekerja di bagian keamanan salah satu bank swasta. Meskipun begitu, dia tetap membagi waktu untuk tetap berlatih menari setiap malam. Pekerjaannya menuntut waktu yang banyak sehingga hanya punya waktu latihan dari pukul 19.00 hingga 22.00.
Namun, perjalanan Putra sebagai penari tradisional tidak selalu mulus. Sering kali, dia merasa minder dan menghadapi tekanan dari pelatih yang keras. Namun, hal itu dirasakannya dulu ketika masih pemula belajar menari.
Setelah rutin latihan dan tampil, mentalnya semakin kuat. Sekarang dia jauh lebih percaya diri dan lebih luwes.
“Kesenian Jawa sudah jadi bagian dari hidup saya. Apalagi sudah melekat sejak kecil. Bagi saya menari bukan hanya soal hobi, tetapi tentang kecintaan pada seni budaya yang membuat penasaran dan terus belajar,” tuturnya.
Pemuda 20 tahun ini masih menyimpan impian besar untuk masa depan. Dia ingin tampil di panggung internasional dan memperkenalkan kekayaan budaya Blitar kepada dunia.
Selain itu, dia juga berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya di bidang tari agar dapat memperdalam ilmunya.
“Dulu sempat ada tawaran tampil di luar negeri, tapi batal karena kendala anggaran. Tapi, saya tetap berharap suatu hari nanti bisa memperkenalkan tarian ini ke luar negeri. Saya juga ingin kuliah di jurusan tari, supaya ilmu saya semakin berkembang,” harapnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila