BLITAR - Meskipun Kota Blitar bukan termasuk dalam daerah endemis penyakit malaria, namun ternyata hingga November ini telah ditemukan tiga kasus penderita malaria di Bumi Bung Karno.
Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Blitar, Trianang Prasetyawan menjelaskan, mayoritas penderita terinfeksi malaria setelah melakukan perjalanan ke luar daerah yang teridentifikasi sebagai wilayah endemis malaria. Seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
“Kami tetap melakukan pemantauan dan penanganan setiap kasus malaria yang ditemukan di wilayah Blitar, meski sebetulnya Kota Blitar ini bukanlah daerah endemis malaria. Penularan malaria di Blitar berasal dari wilayah luar yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit ini,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Meskipun begitu, pihaknya tetap melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan kasus.
Dalam hal ini, dinkes berfokus pada identifikasi dan pengobatan penderita dengan cepat agar tidak menimbulkan penyebaran lebih lanjut.
“Malaria adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit. Gejala utama yang dialami penderita malaria meliputi demam tinggi, menggigil, dan sakit kepala beberapa hari setelah terinfeksi parasit tersebut,” jelasnya.
Dia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah awal pencegahan yang sangat penting.
Selain itu juga untuk membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti penampungan air yang tidak tertutup.
“Edukasi masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan saat ini menjadi sangat penting, terlebih mulai musim penghujan.
Selain itu, penggunaan kelambu saat tidur dan penggunaan obat nyamuk juga diharapkan dapat meminimalkan risiko penyebaran penyakit malaria,” tegasnya.
Paling penting, ungkap dia, bagi masyarakat yang bepergian ke daerah lain yang lebih berisiko terhadap malaria juga harus ditingkatkan.
Masyarakat bisa segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam, menggigil, atau gejala lain yang menyerupai malaria setelah kembali dari wilayah endemis.
“Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Pengobatan yang tepat dan cepat dapat membantu memutus rantai penularan dan mencegah penyebaran penyakit ke orang lain,” pungkasnya. (ham/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila