Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dwi Aprilia, Petani Milenial Asal Blitar Hidupkan Kembali Pertanian Organik, Ajak untuk Lebih Bersahabat dengan Alam

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 8 November 2024 | 19:00 WIB
INSPIRATIF : Apriltengah mengembangkan berbagai pupuk dan hasil pertanian organik (foto kiri).
INSPIRATIF : Apriltengah mengembangkan berbagai pupuk dan hasil pertanian organik (foto kiri).

BLITAR - Di tengah kemajuan teknologi dan gaya hidup urban yang semakin menjauhkan generasi muda di Kabupaten Blitar dari tanah pertanian, justru berkebalikan dengan Dwi Aprilia.

Warga Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar ini memilih beralih dari pekerjaan kantoran untuk menjadi petani.

Awalnya, April sempat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, tetapi karena alasan tertentu warga asli Kabupaten Blitar ini harus berhenti di tengah jalan.

Saat pulang ke kampung halaman, sang ibu menyarankan April untuk bertani. Mengikuti jejak kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu berprofesi sebagai petani.

“Tapi jujur saja, saya bingung dan belum memiliki minat. Walaupun orang tua saya petani, saya belum tahu apa yang saya inginkan. Bahkan, saya sempat terjebak dalam dilema dengan hobi saya, seperti rifting dan hiking,” kenangnya.

Namun, pertemuannya dengan komunitas Tani Remen Blitar (TRB) mengubah cara pandangnya tentang bertani.

Dia pertama kali berkenalan dengan TRB di sebuah acara pemutaran film tentang tradisi leluhur dalam pertanian. Dari sana, benih ketertarikannya pada pertanian mulai tumbuh.

"Saya mulai menyadari bahwa bertani tidak hanya tentang menanam dan memanen. Ini tentang menjaga keseimbangan alam. Apalagi setelah melihat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan di Blitar, saya merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan," ungkapnya.

Bergabung dengan TRB, April tidak hanya belajar teknis bertani, tetapi juga menyerap filosofi mendalam yang disebut sedulur papat lima pancer.

Sebuah konsep yang mengajarkan pentingnya hubungan antara manusia dengan tanah, air, udara, dan energi. Dengan prinsip itulah, dia memutuskan untuk serius bertani meski harus memulai dari skala kecil.

"Banyak orang bilang jadi petani itu berat dan harus punya lahan luas. Padahal, kita bisa mulai dari lahan kecil, bahkan lahan sewa. Berbekal lahan yang ada di sekitar rumah, saat ini saya mulai pembibitan tanaman dan metode pertanian organik," bebernya.

Selain bertani, April juga aktif berbagi pengalaman di media sosial, khususnya Instagram, untuk menginspirasi anak muda agar lebih peduli pada pertanian.

Dia juga mengembangkan berbagai inovasi seperti pupuk NPK cair dan pupuk organik padat yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di sekitar.

“Saat ini juga mengembangkan minuman nutrisi fermentasi buah-buahan yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh. Sebagai petani, kita bekerja keras setiap hari. Saya ingin menjaga kesehatan saya dan orang lain dengan memberikan yang terbaik dari alam," ujarnya.

Meskipun produk-produk yang dikembangkan saat ini masih terbatas untuk kalangan pribadi, dia memiliki impian besar agar inovasinya dapat dijual lebih luas dan membawa manfaat bagi banyak orang.

"Saya percaya, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Dengan menjaga alam, kita juga sedang menjaga masa depan kita sendiri,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#generasi muda #blitar #gaya hidup #pertanian