Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kondisi Makam Soekarmini Kakak Bung Karno Bikin Prihatin, Retno Triani Seokonjono dan Keluarga Lakukan Pugar Swadaya

M. Subchan Abdullah • Senin, 11 November 2024 | 21:00 WIB
SEDIH: Retno Triani saat nyekar di makam Soekarmini, kakak Bung Karno, bersama keluarga pada 16 Oktober lalu dengan kondisi makam yang banyak sampah daun kering.
SEDIH: Retno Triani saat nyekar di makam Soekarmini, kakak Bung Karno, bersama keluarga pada 16 Oktober lalu dengan kondisi makam yang banyak sampah daun kering.

BLITAR - Retno Triani Seokonjono sedih seketika mendapat kabar bahwa makam nenek tercintanya, Soekarmini, di kompleks Makam Bung Karno (MBK) terbengkalai.

Pertengahan Oktober lalu, dia memutuskan berkunjung ke makam neneknya itu. Ternyata benar, kondisi makam banyak sampah daun kering dan tulisan di nisan memudar. Padahal, almarhumah merupakan perintis kemerdekaan.

Lokasi makam Soekarmini, kakak Sukarno, berada tak jauh dari MBK. Tepatnya di timur makam Soekarno dan dipisahkan oleh tembok.

Jauh berbeda dengan makam Sang Proklamator, makam sang kakak, Soekarmini atau sering dikenal dengan Bu Wardoyo, justru terletak di area tempat pemakaman umum (TPU).

Fasad makamnya juga tidak seistimewa makam adiknya, Presiden Pertama Republik Indonesia (RI) tersebut.

Nyekar ke makam sang nenek sudah direncanakan oleh Retno Triani atau yang akrab disapa Retty ini.

Jauh sebelum rencana itu ada, dia mendapat kabar bahwa makam neneknya terawat. Apalagi, sepeninggal adiknya, Ario Sukokusumo, pada 2022 lalu.

Biasanya, adiknya itulah yang merawat makam Soekarmini. Ketika tiba di Blitar dan nyekar di makam neneknya pada Rabu (16/10) lalu, dia kaget dengan kondisi makam. Banyak sampah daun kering dan tulisan di nisan sudah memudar.

“Kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, melalui sambungan telepon, pekan lalu.

Menurut Retty, sejak Soekarmini meninggal pada 22 Oktober 1984 silam, lalu dimakamkan di area pemakaman umum Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, makam nenek dan keluarganya tersebut kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar.

 “Padahal beliau ini adalah perintis kemerdekaan. Sudah sepatutnya memberikan penghormatan dan kepedulian terhadap makam beliau,” tutur perempuan 78 tahun ini.

Baca Juga: Peringatan Hari Jomblo Sedunia 11 November, Kebahagiaan dan Makna Hidup Tak Harus Bersama Pasangan

Makam keluarga tersebut, ungkap Retty, sering menjadi tempat penimbunan sampah daun dan dahan kering yang dipotong dari pohon sekitar makam. Buktinya saat nyekar pertama kali terdapat tumpukan dahan kering di samping makam.

Seketika itu hatinya langsung tergerak untuk berencana memugar makam Soekarmini menjadi lebih layak, meski tak seistimewa makam adiknya, Soekarno.

Rencana itu lantas diutarakan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) selaku pengelola MBK. Bertemulah Retty dengan Kepala Disbudpar Kota Blitar, Edy Wasono.

Pada kesempatan itu, Retty mengutarakan keprihatinannya terkait makam Bu Soekarmini alias Bu Wardoyo yang terkesan tidak terawat. Dia menganggap bahwa Pemkot Blitar kurang perhatian dengan makam kakak kandung Soekarno tersebut.

“Okelah tidak apa-apa. Intinya, saya bertemu kepala dinas Pak Edy itu ingin kula nuwun dulu. Minta izin jika keluarga mau memugar makam. Dari pihak dinas juga bilang tidak ada anggaran untuk itu (pemugaran, Red),” terang anggota MPR RI periode 1999-2004 ini.

Sesuai rencana, keluarga akan memugar makam dengan mendirikan atap joglo atau minimal kanopi di atas makam keluarga tersebut. Tujuannya agar daun-daun kering dari pohon pemakaman tidak jatuh dan mengotori makam. Selain itu, keluarga juga akan memasang lampu penerangan.

Keluarga berharap ada perhatian dari Pemkot Blitar terkait makam Soekarmini, sang perintis kemerdekaan tersebut. Minimal melakukan perawatan secara rutin agar makam elok dipandang.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Blitar Edy Wasono mengakui telah bertemu dengan cucu Soekarmini, Retno Triani Soekonjono. Saat itu, dia mengutarakan perihal kondisi makam neneknya yang terkesan kurang terurus.

“Sebenarnya makam tersebut rutin dilakukan perawatan karena ada petugasnya. Mungkin saja pas beliau ke sana, kondisi makam pas belum dibersihkan,” katanya kepada Koran ini.

 Menurut dia, pemkot selalu memberi perhatian kepada kondisi makam keluarga Bung Karno. Apalagi, makam Ibu Soekarmini, sang perintis kemerdekaan.

“Intinya, pemkot terima kasih sudah diberikan masukan. Kami segera memasang lampu penerangan di area makam keluarga Bu Soekarmini. Sementara itu yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Untuk memugar atau menambah atap di makam, disbudpar belum bisa. Sebab, pemugaran perlu alokasi anggaran sehingga perlu kajian dan perencanaan sebelumnya.

“Jikapun dari keluarga ingin memugar sendiri, ya monggo, silakan. Terpenting harus izin dulu kepada pengelola TPU di lingkungan tersebut, karena makamnya berada di TPU,” tandasnya.

Sekadar diketahui, Soekarmini atau dikenal dengan Bu Wardoyo merupakan kakak kandung Soekarno. Dua bersaudara ini merupakan anak dari pasangan R. Soekeni dengan Nyoman Rai Srimben. Semasa hidup, Soekarmini begitu sayang dengan adiknya, Soekarno.

Bentuk kasih sayang itu diwujudkan dengan membantu pembiayaan pendidikan sang adik melalui suaminya, R. Poegoeh Reksoatmodjo, hingga menjadi seorang insinyur. Ketika Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970, Soekarmini merasa sangat kehilangan. Bahkan sempat digambarkan bahwa separo jiwanya hilang sepeninggal Bung Karno.

Sebagai bentuk penghormatan kepada adiknya tersebut, setiap 21 Juni, Soekarmini menggelar upacara peringatan Haul Bung Karno Ndalem Gebang atau kini dikenal dengan Istana Gebang. Tujuan utamanya mendoakan almarhum adiknya. Kegiatan peringatan haul itu pun menjadi agenda rutin tiap tahunnya.

Yang semula hanya dihadiri anggota keluarga, hingga akhirnya warga sekitar turut memperingatinya. Sepeninggal Soekarmini pada 22 Oktober 1984, peringatan Haul Bung Karno itu tetap berlanjut hingga kini. Bahkan, keluarga besar Soekarno turut serta memperingatinya. (*/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Sang Proklamator #makam bung karno #Disbudpar #insinyur #Alokasi #Pemkot Blitar