BLITAR - Tidak semua anak-anak mencintai kesenian dan budaya Jawa, khususnya wayang kulit. Berbeda dengan Muhammad Aryastya yang sejak dini sudah terampil memainkan dan membawakan cerita pewayangan. Kini, dia kerap diundang sebagai dalang cilik.
Masyarakat tampak memadati pendapa eks Karisedenan Wlingi sejak Sabtu sore. Para pedagang kaki lima juga telah mengambil tempat untuk menjajakan aneka dagangannya. Puluhan wayang tertata rapi di pendapa dan alat musik Jawa beserta pemainnya juga telah siap.
Malam itu memang menjadi sangat istimewa bagi anak 11 tahun dari Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, ini. Ya, Muhammad Aryasatya didapuk tampil menjadi dalang pada malam itu.
Tidak hanya itu, penampilannya ini juga langsung dilihat oleh Pjs Bupati Blitar Jumadi. Saat itu memang bertepatan dengan momen Hari Wayang yang biasa diperingati setiap 7 November.
Arya datang pukul 19.00 WIB, langsung dengan pakaian Jawa berwarna hitam dan blangkon di kepalanya. Dia tampak percaya diri untuk tampil menghibur masyarakat. Sebelum tampil, Arya mengaku tidak merasa gugup karena sudah terbiasa tampil di depan umum.
“Saya persiapan selama sebulan untuk penampilan pertama. Ini saya menampilkan lakon Dewan Ruci. Saya deg-degan karena ini penampilan perdana di depan masyarakat banyak,” ujar Arya, saat menunggu di gedung Tourism Information Center (TIC).
Kurang lebih 1 jam menunggu giliran tampil. Arya baru mulai memegang wayang setelah tamu undangan, khususnya Pjs Bupati Blitar, hadir. Meskipun acara wayang ini semalam suntuk, tentu Arya yang masih berusia 11 tahun tidak diharuskan tampil sampai pagi.
Dia hanya tampil selama 1,5 jam untuk menyelesaikan lakon Dewa Ruci tersebut. Setelah itu, peran dalang diambil alih oleh Ki Gendeng Ardianto hingga dini hari.
“Saya memang berniat jadi dalang dan mencintai seni Jawa, itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya menjadi dalang ini terinspirasi oleh Pak Cahyo Kuntadi dan Seno Nugroho. Dua takoh ini yang saya sering lihat di YouTube,” ungkapnya.
Arya menuturkan bahwa sejak kecil menyukai wayang setelah diperkenalkan orang tuanya. Namun, dia baru mempelajari secara mendalam sejak 6 bulan yang lalu.
Dari niat dan latihan keras yang dilakukan, dia memberanikan diri untuk tampil pada Hari Wayang ini. Tentu keluarga yang mengantar ikut bangga melihat Arya berani tampil.
Banyak hal yang dipelajari Arya untuk mempersiapkan diri menjadi dalang ini. Mulai dari menghafalkan suluk, sabetan, cerita-cerita Dewa Ruci, dan berlatih berbicara karakter wayang yang satu dengan lainnya.
Semua hal itu diajari oleh Ki Gendeng Ardianto yang telaten mengarahkan siswa kelas 5 sekolah dasar (SD) ini.
Dalang Ki Gendheng Ardianto mendampingi Arya dalam belajar menjadi dalang selama kurang lebih 4 bulan. Mulai dari pengenalan lara gamelan, belajar keprak, dan cara memegang wayang dengan benar hingga luwes.
“Saya memang mempunyai sanggar seni, salah satu anak didik saya ya Mas Arya ini. Sebenarnya banyak yang berniat tampil menjadi dalang, tapi Arya ini mendapatkan kesempatan tampil lebih dulu,” tuturnya.
Sementara itu, ayah Arya, Sujoko, ikut bangga melihat buah hatinya bisa tampil menjadi dalang di depan Pjs Bupati Blitar. Meskipun dia bukan dalang, dia sudah memperkenalkan wayang kepada Arya sejak usia 4 tahun.
Akhirnya, Arya tertarik dengan wayang, baik dengan ceritanya dan semua hal tentang wayang. Bahkan, sang anak meminta untuk dibelikan wayang dari kertas untuk dimainkan di rumah. Menurut dia, kesenian ini patut ada regenarasi agar kesenian Jawa tidak terlindas oleh zaman.
Dalang ini bisa menjadi profesi utama jika sudah profesional. Namun bila hanya untuk senang-senang tentu perlu ada profesi lain. Maka dari itu, Arya diarahkan memiliki keterampilan lebih dulu untuk bekal sekolah.
“Selama persiapan, saya melatih Arya setiap Rabu dan Minggu. Arya pulang sekolah pukul 14.00 sehingga sampai rumah malam. Apalagi tempat latihannya di Garum, sehingga cukup jauh dari rumah saya di Binangun,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila