Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Sungging Bondan Widodo, Seniman Blitar yang Bertekad Menghidupkan Sejarah Lewat Seni

Muhamad Ilham Baha’udin • Kamis, 14 November 2024 | 17:52 WIB
DARI HATI: Bondan Widodo menunjukkan detail bagian dari relief yang dibuatnya di Taman Plaza Museum Peta, Kemarin (13/11).
DARI HATI: Bondan Widodo menunjukkan detail bagian dari relief yang dibuatnya di Taman Plaza Museum Peta, Kemarin (13/11).

BLITAR - Di sudut Kota Blitar, nama Sungging Bondan Widodo, Warga Kelurahan Dandong, Kecamatan Srengat dikenal bukan hanya sebagai budayawan, tetapi juga sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk merangkai karya seni dan sejarah. Sebagai pelukis, perupa, dan pematung, perjalanan hidupnya dipenuhi dengan pengabdian.

Teriknya matahari siang itu tak menghalangi para pekerja yang tengah membuat relief di area Taman Plaza Museum Peta untuk bekerja keras memasang bagian demi bagian.

Dari kejauhah, tampak seorang pria paruh baya berpenampilan nyentrik yang menyita perhatian. Iya, dia adalah seniman pembuat relief, Sungging Bondan Widodo.

“Monumen Peta ini merupakan salah satu karya saya yang rasanya campur aduk, sangat mengesankan, sangat menyakitkan, dan sangat membanggakan. Saat itu, saya direkomendasikan wali kota yang tengah menjabat untuk mendesain monumen itu setelah ada seniman yang rancangannya ditolak sepuluh kali,” ungkapnya mengawali pembicaraan.

Dalam prosesnya, tutur dia, tidak ingin main-main untuk membuat rancangan, dia pergi ke Surabaya, bertemu dengan pelaku sejarah PETA yang masih kerabatnya.

Setelah itu, ke Museum Brawijaya Malang dan riset beberapa kali dengan sangat serius.

“Begitu wali kota melihat desain saya, beliau sangat suka dengan desain awalnya. Saya presentasi melawan pematung dari Surabaya, saya dibentak-bentak karena desain saya dianggap tidak sesuai dengan sejarah oleh pematung dari Surabaya,” kenangnya.

Namun, dia membuktikan bahwa keseriusannya dalam riset ini betul-betul valid dan desain awal miliknya lah yang digunakan.

Tapi, dia merasa sakit hati ketika pengerjaan awal itu tidak diberikan kepadanya melainkan pada pihak kompetitor.

“Jadi saya ditelepon sama kabag sosial bahwa pengerjaannya dilakukan oleh orang dari Surabaya, itu karena direkomendasi oleh Tomi Soeharto. Ketika masa wali kota Djarot Syaiful Hidayat, saya melanjutkan enam patung berikutnya dengan dana yang minim,” bebernya.

Di dunia seni, Bondan-sapaan akrabnya, telah menorehkan berbagai prestasi. Lukisannya tentang Bung Karno menjadi koleksi berharga Museum Perpustakaan Nasional Bung Karno dan sejumlah pejabat negara.

Pada 2000, Yayasan Pendidikan Soekarno menganugerahkan piagam penghargaan sebagai pelukis figur Bung Karno terbaik.

“Ditahun yang sama, dua karya saya dinilai layak dipamerkan di tingkat dunia oleh Vladimir Anisimov, Presiden Roerich Art Rusia-India, yang memamerkannya di Modern Art dan Oriental Art Museum di Moskow. Lalu, pada 2001 saya melukis Bung Karno dengan ukuran raksasa, 11x17 meter, yang dipasang di Istora Jakarta sebagai simbol kembalinya nama Gelora Bung Karno dan juga menciptakan lagu "Putra Sang Fajar" yang mengabadikan semangat proklamator,” jelasnya.

Bondan juga dikenal dengan kepeduliannya terhadap situs-situs bersejarah, pada 2010 membangun monumen Bung Karno setinggi 9 meter di Universitas Bung Karno, sebuah karya yang diminta langsung oleh Rachmawati Soekarnoputri.

Dedikasi Bondan terhadap sosok Bung Karno terus mengalir, seperti ketika menulis buku Kemi Dayu: Kisah Cinta Pengukir Bapak Bangsa pada 2015, hasil dari riset panjangnya mengenai sejarah.

Beberapa karya terkenal lainnya adalah Taman Bung Karno di Pendopo Kabupaten Blitar Pada 2017, Monumen Bung Karno Bapak Bangsa ikon Istana Gebang, dan proyek patung lilin tujuh presiden RI sebagai bagian dari wisata kebangsaan di Blitar.

Dia berharap, dapat berkesempatan berjumpa dengan Presiden RI Ke delapan dan membuka proyeknya yang terhenti ini.

“Istri saya berjuang melawan kanker, selama mendampingi istri yang dirawat di RSUD Saiful Anwar, saya menulis buku roman sejarah Sarinah dalam Kehidupan Bung Karno, sekaligus ilustrasi yang ada di dalamnya. Buku ini rencananya akan diluncurkan pada acara yang dihadiri Menteri BUMN Erick Thohir, namun pada hari-hari terakhir menjelang peluncuran, istri saya kritis,” kenangnya. (*/ady)

Kegiatan Pound Fit PRUActive Family yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan usia
Kegiatan Pound Fit PRUActive Family yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan usia
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#presentasi #kompetitor #prestasi #Museum PETA #Kota Blitar #Taman Plaza