BLITAR – Untuk mengatasi turunnya luasan lahan di Bumi Bung karno yang terus terjadi, Kota Blitar beralih ke strategi ketahanan pangan berbasis ruang.
Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan luar dan mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Berdasarkan data, luasan lahan sawah yang tersisa saat ini sekitar 980 hektar, 10 hektar di antaranya setiap tahun beralih fungsi.
Sehingga, masyarakat mulai diarahkan untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai solusi alternatif menanam tanaman pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dewi Masitoh menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih fokus pada pertanian holtikultura, seperti menanam sawi, cabai, dan sayuran lain di pekarangan mereka.
Dengan memanfaatkan lahan kosong di pekarangan untuk menanam sayuran dapat mengurangi beban pengeluaran sebab masyarakat bisa memetik hasil panen sendiri.
“Selain itu, upaya meningkatkan ketahanan pangan juga dilakukan melalui pengolahan padi sehat dengan penggunaan pupuk organik. Produksi padi di Kota Blitar mencapai 8.169 ton pada tahun 2023,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Menurut dia, tantangan utama dalam pertanian padi adalah ketersediaan air, terutama di wilayah yang tergantung pada hujan atau sumur bor. Cuaca yang tidak menentu juga berimbas pada pengairan sawah yang semakin sulit.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, jelas dia, pemerintah terus menggalakkan penggunaan pupuk organik sebagai alternatif pupuk kimia, yang harganya terus meningkat.
Saat ini, harga pupuk kimia tanpa subsidi bisa mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per sak, sedangkan harga subsidi sekitar Rp 112.500 per sak.
“Kami intensifkan pelatihan pembuatan pupuk organik agar petani bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia yang mahal, sekaligus menjaga kualitas lahan yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan. Penggunaan pupuk organik tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga membantu memperbaiki kesuburan tanah yang telah rusak akibat degradasi,” jelasnya.
Dia menyebutkan, beberapa wilayah seperti Kelurahan Pakunden, Ngadirejo, Gedog, dan Klampok, telah menjadi pusat pengembangan beras sehat melalui pembinaan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, para petani dapat beralih dari menjual gabah dengan harga rendah sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kg menjadi petani beras kemasan yang lebih bernilai tinggi, yakni Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kg. (ham)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila