Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Eksistensi Barongan Warok, Konon Inspirasinya dari Situs Kuno di Desa Modangan Blitar

Didin Cahya Firmansyah • Minggu, 24 November 2024 | 15:00 WIB
LUWES: Barongan warok besar dan kecil menari saat penampilan di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupetan Blitar.
LUWES: Barongan warok besar dan kecil menari saat penampilan di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupetan Blitar.

BLITAR - Warok berasal dari kata waraha yang merupakan hewan titisan dari dewa. Warok digambarkan sebagai karakter dalam kesenian jaranan yang lincah dan kuat.

Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, memiliki situs yang menginspirasi lahirnya barongan warok. 

SATU lagi yang patut menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Blitar terutama Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, adalah kesenian.

Pemerintah Desa (Pemdes) Modangan menetapkan satu jenis barongan yang bernama barongan warok. Terinspirasi dari salah satu situs di Desa Modangan yakni situs Arca Warok.

Kades Modangan, Moch. Bisri Mustofa, mengatakan bahwa ketika menjabat pertama kali tahun 2019 mendapati sebuah situs kuno di desanya tersebut. “Diperkirakan situs warok ini peninggalan sebelum Kerajaan Majapahit,” ujarnya.

Dalam situs tersebut, terdapat sebuah arca berbentuk unik. Yakni pada bagian kepalanya berbentuk binatang gajah, sedangkan badannya menyerupai celeng.

Dari keunikan bentuk arca inilah, Kades Modangan itu terinspirasi membuat sebuah barongan warok yang kemungkinan bisa menjadi ikon desanya itu. 

Dia bersama kelompok sadar wisata (pokdarwis), karang taruna, dan para pegiat seni di Desa Modangan sepakat membentuk barongan warok yang dikenal sejak tahun 2019 hingga sekarang. 

Dia menceritakan bahwa pertama kali desain barongan warok tersebut berbahan dasar kayu.

Namun, karena tekstur kayu keras dan berat, dia lantas memutuskan dari bahan lain yang lebih ringan. 

Akhirnya digunakanlah bahan lebih ringan yakni styrofoam. “Warak itu kan identik dengan tarian lincah, jadi tidak sesuai kalau menggunakan kayu,” tandasnya.

Dia mengaku, saat pertama kali ditampilkan, barongan warok ini mendapatkan antusias baik dari masyarakat setempat.

Karena, bentuk barongan warok belum ada di daerah mana pun, termasuk Blitar. “Di mana-mana belum ada, hanya di Modangan,” katanya.

Barongan warok ini kemudian terdengar sampai ke telinga ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar dan mendapat dukungan serta branding yang kuat.

Puncaknya, barongan warok ini kemudian aktif ditampilakan dalam acara yang digelar oleh disbudpar dalam menyambut tamu luar daerah.

“Sering diundang disbudpar, kalau mereka ada tamu dari luar,” ungkapnya.

Selain mendapatkan panggung dari disbudpar, support lain yang diberikan kepada pelaku kesenian barongan warok ini adalah memberikan pelatihan dan evaluasi.

“Jika dalam penampilan ada kekurangan dari para pemainnya, biasanya diberi evaluasi,” ujarnya.

Dalam penampilannya, kesenian ini ditampilkan dengan jumlah personel sekitar 10 orang penari, termasuk barongan warok, serta 5 orang sebagai penabuh musik.

Mustofa menambahkan, sebelum menampilkan barongan warok, terdapat semacam ritual yang tujuannya untuk meminta izin kepada roh leluhur.

“Jadi, karena di desa ini masih kental dengan tradisi dulu, sebelum menampilkan harus didahului ritual,” ungkapnya.

Dia menyatakan barongan warok yang diciptakannya bersama kelompok seni di Desa Modangan belum mendapatkan lisensi dari disbudpar.

Harapannya, permasalahan tersebut bisa segera teratasi, mengingat barongan warok ini merupakan barongan asli dari Desa Modangan.

“Untuk sekarang disbudpar sedang mengusahakan. Jadi semisal ada yang mengklaim dari daerah lain, ya kita tidak bisa apa-apa,” cetusnya. (mg3/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#warok #Kecamatan Nglegok #kesenian jaranan